Tampilkan postingan dengan label My Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Indonesia. Tampilkan semua postingan

7.12.07

TARI KECAK

PENGIRING UPACARA PENGUSIR WABAH

Berlawanan dengan kepercayaan, tarian Kecak itu sendiri tidak begitu tua (tarian modern). Lagunya diambil dari ritual tarian Sanghyang kuno, yang sampai hari ini masih dilakukan beberapa desa. Selama tarian Sanghyang, seseorang akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Tarian ini adalah satu tarian yang sangat unik. karena tidak diiringi dengan musik Bali atau “gamelan” seperti halnya tarian yang lain. Tari kecak ditarikan oleh lebih dari 50 orang yang kebanyakan laki-laki. Kata kecak berasal dari kata “cak” yang diucapkan secara beramai-ramai dan dengan irama yang sangat indah untuk didengarkan.Kisah cerita dari tarian ini adalah kisah percintaan (love story), yang diambil dari kisah pewayangan “Ramayana”. Ini menceritakan Dewi Shinta (istri dari Sang Rama Dewa), diculik oleh raja raksasa yaitu “Rahwana”, untuk dijadikan istrinya. Rama dibantu oleh “Hanoman” si kera putih, berusaha mendapatkan istrinya kembali. Pada saat itulah ada banyak sekali masalah dan konflik-konflik yang dihadapi oleh Rama maupun Shinta dan juga para pembantunya. Singkat cerita akhirnya Dewi Shinta kembali kepelukan Sang Rama Dewa. Tarian ini diakhiri dengan Tari “Sang Hyang Jaran” atau tari api. Dimana seorang penari dengan menunggang kuda-kudaan, menari diatas api yang membara, namun tak sedikitpun bagian tubuhnya yang terbakar. Karena sebelumnya telah dimasuki oleh “roh halus”. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak * bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

*) Wayan Limbak, koreografer tari kecak, meninggal pada Jumat (5/9) 2003 pukul 21.00 Wita di sebuah rumah sakit di Bali menyusul serangan stroke. Seniman tari yang tetap bersemangat di usia lanjut ini mencapai usia 105 tahun.






















Photo Credit : Alex Lea, Brian J. Mc Morrow

29.11.07

LEGENDA PAK SAKERA : SIMBOL PERLAWANAN RAKYAT JELATA


MENELUSURI SEJARAH CAROK & CELURIT


Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).


PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja.

Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok? Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.

Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam.

Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.

Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.

Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.


Source : Tabloid Posmo

26.11.07

DEBUS



Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain. Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang diperkirakan berkembang sejak abad ke 13. Namun, pernahkah orang bertanya-tanya darimana sebenarnya asal debus tersebut? Menurut catatan sejarah, Debus itu sendiri sebenarnya ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah. Tarikat ini dibawa oleh Nurrudin Ar-raniry ke Aceh pada abad 16. Tarikat ini ketika melakukan ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena "bertatap muka" dengan Tuhan), mereka kerap menghantamkam berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi sederhana yang bisa kita tangkap adalah "lau haula walla Quwata ilabillahil 'aliyyil adhim" atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi kalau Allah tidak mengijinkan pisau, golok, parang atau peluru sekalipun melukai mereka, maka mereka tak akan terluka. Pada kelanjutannya, tarikat ini sampai ke daerah Minang dan di Minang pun dikenal istilah Dabuih.

25.11.07

REOG PONOROGO


SENI BERNUANSA MAGIS DARI PONOROGO

Suara khas salompret, terompet tradisional mengisi atmosfer panggung pertunjukan, sedikit serak namun tinggi meliuk-liuk. Berpadu dengan kendang dan gamelan menyajikan ‘orkestrasi’ pentatonik mengiringi atraksi penari dadak merak reog (dadak merak=topeng besar berbentuk kepala harimau dengan bulu-bulu merak disekelilingnya).

Sesungguhnya tari reog tidak semata aksi akrobatik penari topeng dadak merak yang dipakainya. Topeng dengan berat yang dapat mencapai 50 kg, oleh penarinya dibuat meliuk-liuk dengan lincahnya. Ada sebuah alur cerita dalam pertunjukan kesenian khas Ponorogo itu. Konon kelahiran kesenian Reog pada tahun saka 900 itu dilatarbelakangi kisah tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana, penguasa Kerajaan Bantarangin mencari sang permaisuri. Bersama prajurit berkuda, dan patihnya yang setia, Bujangganong. Akhirnya gadis pujaan hatinya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri Kediri. Namun sang putri menetapkan syarat agar sang prabu menciptakan sebuah kesenian baru terlebih dahulu sebelum diterima cintanya. Seperti halnya kesenian tradisional Indonesia yang lain, reog adalah seni tradisi yang lahir dari masyarakat. Sebuah tontonan sederhana, yang tidak mengenal alur cerita. Hanya arak-arakan di jalanan dan sesekali berhenti untuk beratraksi di hadapan masa.
Atmosfer magis dan mistis senantiasa menyelimuti pertunjukan reog. Kemampuan fisik para penari dalam membawakan dadak merak yang terkadang lebih berat dari tubuhnya itu dengan gigi, sering kali dihubungkan dengan unsur-unsur kekuatan supranatural.

Demikian juga kehidupan para penari warok yang penuh misteri. Kini, di panggung pertunjukan dan festival, dapat kita saksikan koreografi cerita reog yang diawali dengan tampilnya warok, jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, barongan dadak merak sebagai sajian pamungkas. Semuanya berisi dan melambangkan segala tingkah laku manusia sepanjang hidupnya, dari saat ia dilahirkan ke dunia ini hingga akhirnya kembali ke pencipta-Nya. Di Kabupaten Ponorogo setiap tahun kita dapat menyaksikan 2 gelaran besar reog. Sebuah festival diselenggarakan dalam menyambut tahun baru Islam (1 Muharram) atau tahun baru Jawa (1 Sura). Reog yang pada awal kelahirannya sarat dengan warna Hindu, dan kemudian mendapat pengaruh Islam dari Raden patah, mungkin akan beradaptasi dengan budaya yang terus diperkaya pengaruh dari luar.

Photo by : Toto Santiko Budi

18.11.07

WAYANG BEBER

WAYANG BEBER PACITAN
CERITERA JOKO KEMBANG KUNING

Dewi Sekartaji Hilang

Di pendapa keraton Kediri, Prabu Lembu Amijaya berkeluh kesah karena putrinya Dewi Sekartaji
meninggalkannya.


Raja mengumumkan bahwa barangsiapa berhasil menemukan putri itu, akan dinikahkan dengannya. Jaka Kembang Kuning (Panji Asmara Bangun) dari Jenggala berangkat untuk mencari Dewi Sekartaji, begitu pula halnya dengan Prabu Klana Gendingpita dari kerajaan asing. Setelah Jaka Kembang Kuning mengalami pertikaian dengan sejumlah ksatria serta perjumpaan Dewi Sekartaji dengan salah seorang mentri kerajaan, secara kebetulan keduanya bertemu dipasar, dimana Jaka Kembang Kuning menyamar menjadi pemusik.

Jaka Kembang Kuning

Di kerajaan Kediri Prabu Brawijaya sedang mengadakan pertemuan dengan para punggawa kerajaan, masing-masing patih Tandamantri Arya Jeksanegara, Raden Gandarepa, dan utusan dari Kademangan Kuning yang bernama Jaka Kembang Kuning. Prabu Brawijaya sedang bersedih hati karena putri kesayangannya yang bernama Dewi Sekartaji meninggalkan kerajaan tanpa memberi tahu siapapun. Jaka Kembang Kuning menawarkan diri untuk mencari Dewi Sekartaji hingga ketemu. Prabu Brawijaya menyetujui kesanggupan Jaka Kembang Kuning dan memintanya untuk segera berangkat. Pada saat yang bersamaan datang Prabu Klana Gendingpita dari Kerajaan Surateleng (sabrang) mengajukan lamaran pada Prabu Brawijaya agar ia dinikahkan dengan Dewi Sekartaji. Prabu Brawijaya berjanji akan menerima lamaran itu setelah Dewi Sekartaji dapat ditemukan. Prabu Klana diminta untuk menunggu di Teratebang (tempat peristirahatan bagi tamu-tamu kejaan Kediri).

Di Hargalawu Jaka Kembang Kuning yang diikuti oleh kedua Punakawannya (Tawangalun dan Nalederma) dalam perjalanan mencari Dewi Sekartaji bertemu dengan tiga orang ksatria, masing-masing Ganggawercitra, Jaladara, dan Gendrayuda. Ketiga kesatria ini mengajukan keinginannya pada Jaka Kembang Kuning agar dirinya dijadikan sebagai abdi. Jaka Kembang Kuning mengetahui bahwa sebenarnya ketiga kesatria itu adalah pengikut Prabu Klana yang disuruh untuk memata-matai Jaka Kembang Kuning yang dapat mengancam keselamatan jiwanya. Jaka Kembang Kuning menolak keinginan ketiga kesatria itu dan menyarankan agar mengabdikan diri pada Raden Gandarepa salah satu putra Prabu Brawijaya di Kediri.
Saran Jaka Kembang Kuning diterima dan masing-masing melanjutakan perjalanannya.

Di Katumenggungan Palohamba, Tumenggung Conaconi memberitahukan mimpinya yaitu kejatuhan bulan (wahyu sakembaran) pada istrinya. Tumenggung ini mempunyai anak pungut yang sebenarnya Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri. Pada saat itu Dewi Sekartaji berpamitan pada Tumenggung Conaconi untuk berbelanja di pasar Katumenggungan. Setelah diberi beberapa nasihat oleh Tumenggung Conaconi beserta istrinya, Dewi Sekartaji diperbolehkan berangkat ke pasar.

Di pasar Katumenggungan Jaka Kembang Kuning, Naledarma, dan Tawangalun sedang mengadakan tontonan terbangan diantara kerumunan orang-orang di pasar. Dari kejauhan Jaka Kembang Kuning melihat kehadiran Dewi Sekartaji di tempat itu. Demikian juga Dewi Sekartaji melihat Jaka Kembang Kuning yang sebenaranya adalah Panji Asmarabangun kekasihnya. Dewi Sekartaji jatuh pingsan dan segera dibawa ke Katumenggungan Palohamba oleh beberapa temannya. Sementara Jaka Kembang Kuning kembali ke kademangan Kuning.

Di Kademangan Kuning, Ki Demang Kuning sedang menerima kedatangan Jaka Kembang Kuning, Naledarma dan Tawangalun. Mereka melaporkan perihal yang dialami selama berada di pasar Katumenggungan. Menanggapi laporan itu Demang Kuning menyuruh Tawangalun untuk menyampaikan berita bahwa Dewi Sekartaji berada di Katumenggungan Palohamba pada Prabu Brawijaya di Kediri, dan Naledarma disuruh menyampaikan kendhaga kepada Dewi Sekartaji.

Di Pangreburan (Taman sari Kerajaan Kediri), Dewi Retnamindaka salah satu abdi kepercayaan Prabu Brawijaya yang melayani Dewi Sekartaji sedang menerima kedatangan Dewi Retno Tenggaron (adik dari Prabu Klana). Retno Tenggaron mewakili kakaknya menyampaikan berbagai perhiasan sebagai tanda lamaran pada Dewi Sekartaji, tetapi ditolak oleh Retno Mindaka. Merasa tersinggung Retno Tenggaron mengancam Mindaka dan akhirnya terjadi pertengkaran yang berkembang menjadi pertempuran. Peperangan ini dimenangkan oleh Retno Mindaka, Retno Tenggaron melarikan diri.

Di Teratebang Raden Gandarepa, Patih Sedahrama, dan beberapa prajurit sedang mengatur barisan prajuritnya, datang Tawangalun yang hendak menyampaikan pesan Demang Kuning kepada Prabu Brawijaya. Patih Sedahrama dan Gandarepa mengantarkan Tawangalun menghadap Raja Kediri.

Di Kerajan Kediri Prabu Brawijaya sedang menerima kedatangan Prabu Klana yang mendesak agar segera dinikahkan dengan Dewi Sekartaji dan belum mendapatkan kepastian. Pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan Gandarepa dan Sedahrama yang mengantarkan Tawangalun. Setelah Tawangalun menyampaikan pesan Demang Kuning, Prabu Brawijaya memutuskan bahwa Prabu Klana akan segera dinikahkan dengan Sekartaji asal dapat mengalahkan Tawangalun, Prabu Klana menyanggupi.

Di Pesanggrahan Prabu Klana dan Patih Kebolorodan membicarakan perihal tantangan untuk mengalahkan Tawangalun sebagai salah satu syarat untuk dapat meperistri Dewi Sekartaji. Tidak lama kemudian datang Retno Tenggaron melaporkan bahwa dirinya telah dipermalukan oleh Retno Mindaka dan lamaran Prabu Klana ditolak. Prabu Klana marah dan akan menuntut balas atas perlakuan pada adiknya. Untuk memenuhi tantangan Prabu Brawijaya, Patih Kebolorodan yang disuruh untuk maju ke medan perang melawan Tawangalun.

Di kademangan Kuning Jaka Kembang Kuning mohon diri pada Demang Kuning untuk menyusul Tawangalun yang telah beberapa waktu belum kembali dari Kediri. Demang Kuning mengijinkan permintaan Jaka Kembang Kuning.

Di alun-alun Kediri Patih Kebolorodan berperang melawan Tawangalun dengan disaksikan oleh para punggawa dan prajurit Kediri serta pengikut Prabu Klana. Pertarungan itu dimenangkan oleh Patih Kebolorodan, sementara Tawangalun mencari pertolongan ke luar arena pertarungan. Jaka Kembang Kuning bersama Naledarma yang datang menyusul telah kembali dan segera memberi pertolongan pada Tawangalun. Jaka Kembang Kuning meminta Naledarma untuk melanjutkan pertarungan melawan Kebolorodan. Akirnya Kebolorodan dapat dibunuh oleh Naledarmo. Setelah Tawangalun merasa sembuh dari lukanya, Patih Sedahrama menghadiahi sebuah keris (Pasopati) dengan maksud jika Prabu Klana datang menyerang Kediri Tawangalun harus ikut membantu menghadapinya.

Di Pesanggrahan, Prabu Klana dan Retno Tenggaron sedang berupaya mencari jalan untuk dapat membalas sakit hatinya pada Retno Mindaka dan bisa menemui Dewi Sekartaji di Keputren Kediri. Kesepakatan yang diperoleh, Prabu Klana akan berganti wujud sebagai Raden Gandarepa (kakak Sekartaji) agar tujuannya tercapai.

Di Tamansari Kerajaan Kediri Dewi Sekartaji yang baru saja kembali dari Kademangan Palohamba menerima kedatangan Gandarepa (tiruan) yang minta untuk dilayani. Karena gerak-gerik Gandarepa yang mencurigakan, Sekartaji tidak mau memenuhinya. Tidak lama kemudian datang Raden Gandarepa (asli).
Dewi Sekartaji segera dapat mengetahui saudaranya yang sebenarnya dan minta pertolongan agar musuh yang ada ditempat itu segera diusir, akhirnya terjadi peperangan. Gandarepa palsu dapat dikalahkan dan kembali ke wujud aslinya, Prabu Klana segera lari ke alun-alun.

Di alun-alun Kediri Prabu Klana yang dikejar Prabu Gandarepa menemui para pengikutnya. Sementara Tawangalun telah siap melakukan pertarungan melawan Prabu Klana dan pengikutnya. Pada akhir pertarungan Tawangalun dapat membunuh Prabu Klana dengan keris Pasopati, sedangkan Retno Tenggaron dan para tawanan lainnya segera dibawa menghadap Prabu Brawijaya.

Di Kerajaan Kediri Prabu Brawijaya menerima para tawanan dan laporan tentang berbagai kejadian sejak hilangnya Dewi Sekartaji sampai terbunuhnya Prabu Klana. Prabu Brawjaya memutuskan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan Jaka Kembang Kuning dan segera mempersiapkan pesta perkawinan. Setelah segala persiapan selesai segera dilaksanakan upacara pernikahan antara Jaka Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji.


Image Courtesy by Pujianto (Pasunggingan Wayang Beber "Campur Sari" Sragen)

2.11.07

MENTAWAI ISLAND

NATURAL - HEALERS - JUNGLE - DWELLERS






































































































































































Photo credit : Jean Philippe Soule/ Nativeplanet.org

31.10.07

CREATING A BRANDED EXPERIENCE : THE BAHAMAS

“We want people to look at The Bahamas again and again.”


– Vincent Vanderpool-Wallace, Former Director General, Ministry of Tourism, The Islan
d
s Of The Bahamas

Kepulauan Bahama adalah negara yang unik;serangkaian tujuh ratus pulau yang terbentang sepanjang hampir seribu kilometer (sebelah timur Palm Beach Florida dan sebelah utara Kuba). Hanya tiga puluh pulau ini didiami, dengan populasi total sekitar 300 ribu orang. Bahama bukan negara pulau melainkan negara yang terdiri dari banyak pulau. (sama bukan dengan Indonesia)Pada 2003 silam, tempat pariwisata di Karibia secara bertahap memulihkan diri setelah mengalami penurunan jumlah wisatawan pasca serangan teroris 11 September 2001. Tetapi imbas dirasakan oleh kepulauan Bahama mengingat pemulihannya dirasa paling lambat.

Pariwisata di wilayah Karibia tumbuh pada kecepatan 7 persen, sedangkan kecepatan pemulihan Kepuluan Bahama hanya 4,3 persen, dan Departemen Pariwisata setempat beranggapan bahwa penyebabnya adalah cara pemasarannya yang dirasa kurang progressif. Mengingat pariwisata mencakup 60 persen produk domestik bruto kepulauan Bahama dan memberikan setengah lapangan pekerjaan yang tersedia di negeri tersebut. Kelangsungan hidup sebagian besar penduduknya menuntut adanya perubahan besar.

Kepulauan Bahama dipandang secara satu dimensi - persinggahan tropis singkat untuk bersenang-senang di bawah sinar matahari. Tetapi negara itu adalah kepulauan yang terdiri atas tujuh ratus pulau, dengan airnya yang terjernih di dunia dan luas rentang wilayah geografis, kebudayaan, kegiatan serta kepribadiannya. Kepulauan ini memiliki reruntuhan kuno, cagar kuda liar, taman patung, keunikan geologis, spesies langka flora dan unggas, mata air yang menyembuhkan dan gereja serta bangunan sejarah - yang kebanyakan tidak diketahui para wisatawan yang cuma berjemur dipantai. Kekayaan sesungguhnya pulau ini belum banyak diketahui orang, dan itulah yang menjadi masalah terbesar negara tersebut.

Membangun merk melalui desain.


Duffy Design menangkap bentuk geografis maupun semangat Kepulauan Bahama dengan logo ini. Semua orang Bahama merasa terwakili, dan desain ini memberikan negara itu suatu kerangka untuk memasarkan beragam tawarannya. Para perancang Duffy mendasarkan sistem identitas grafis tersebut pada bentuk geografis kepulauan itu. Setiap pulau direpresentasikan dalam bentuk dan warna berbeda. Secara keseluruhan, gambar-gambar itu menampilkan kepulauan indah dan berwarna-warni.

Logo ciptaan tersebut bersifat simbolis sekaligus instruktif. Para tim kemudian menggunakan logo tersebut sebagai dasar suatu sistem yang sangat fleksibel, di mana setiap bentuk dan warna pulau bisa digunakan sendiri-sendiri sebagai merk pulau tersebut. Serangkaian proses dan presentasi membawa hasil yang menggembirakan dan mampu menggerakkan semua orang maupun semua lini di bisnis tersebut. Brand baru tersebut dianggap mengandung kekuatan, dan mereka melihat peran mereka sendiri di dalamnya. Hal tersebut membuat orang-orang Bahama yakin bahwa pemerintah mereka inovatif-dan bekerja keras untuk membantu mereka.

Mereka merasa untuk pertama kalinya, bahwa mereka memiliki perbedaan dan kelebihan yang sekaligus menjadi potensi bagi mereka sendiri. Hal itulah yang menggerkakan masing-masing orang bergerak dalam bisnis pariwisata untuk mulai berpikir dalam satu brand. Sedangkan keseluruhan kampanye pemasaran tersebut adalah cara pandang Carribian experiential terhadap kepulauan Bahama. Kebenaran inti Kepulauan Bahama adalah rentang pengalaman yang mereka tawarkan. Kebenaran inti masalah bisnisnya adalah pulau-pulau luar membutuhkan lebih banyak dukungan dibanding lokasi yang sudah terkenal. Yang harus mampu dikomunikasikan adalah keragaman pengalaman tersebut. Gagasan keragaman itulah yang menjadi prinsip dasar para tim, sedangkan tema yang dipilih adalah "Island Hopping" (lompat dari pulau ke pulau). Slogan ini memang terkesan sangat tidak cerdas tetapi jika ingin membantu kepulauan tersebut, itulah cara langsung mempromosikannya. Media internet pun dipilih dan diluncurkan. Situs tersebut memperlihatkan Kepulauan yang pantas dibanggakan oleh para warganya, mereka menganggap bahwa sekarang mereka punya cara untuk memberitahu kepada warga dunia apa yang negaranya miliki. Selain memberikan identitas baru, situs web tersebut sangat mudah dinavigasi sehingga pengguna ingin menggali lebih dalam. Sehingga para pengguna pun bisa belajar banyak tentang kegiatan dan pemandangan di Kepulauan bahama. Bahamas.com adalah sarana paling ampuh yang sangat mudah digunakan, informatif, dan menyenangkan yang menghidupkan pengalaman 'Island Hopping". Setelah menciptakan posisi, identitas, dan situs web kemudian tiom menjalankan langkah terakhir, yaitu mengabarkan pesan melalui kampanye iklan televisi, maupun media lainnya (majalah gaya hidup, radio, dan tentu saja internet).

Hasil dari sebuah kerja kolaboratif yang membanggakan....