Tampilkan postingan dengan label Brand and Branding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brand and Branding. Tampilkan semua postingan

1.1.08

KFC'S NEW FACE

Beberapa waktu silam KFC kembali merebranding dengan tampilan logo barunya.
Logo baru hasil besutan dari Tesser Inc. terkesan lebih youthful and energetic, si bapak tua (Colonel's Sanders) dengan passionnya tetap menjadi icon dengan tampilan yang lebih fresh berlatar merah tua menambah kuat karakter si Colonel. Re-energizing the brand with fun, dengan mengkombinasikan tampilan grafis yang "old school" retro dan kontemporer.

ARTI SEBUAH KESABARAN

Siapa yang tidak pernah mencicipi lezatnya ayam goreng KFC? Gurihnya, renyahnya, nyaris sempurna. Sampai-sampai semua orang rela antri hanya untuk sepotong ayam goreng. Tetapi siapa yang peduli perjuangan berat sang kolonel saat pertama kali memulai usahanya? Kolonel tersebut memulai usahanya pada usia diatas 60 tahun, menawarkan resep ayam gorengnya lebih dari ratusan restoran makanan dan baru diterima pada restoran ke 108, bisa anda bayangkan betapa jumlah restoran mkanan pada waktu itu tidak sebanyak sekarang? Dan dia baru menikmati hasil kerja kerasnya pada usia 90 tahun. Pertanyaannya sangat sederhana, bagaimana bila kolonel tersebut patah semangat saat menawarkan resepnya pada restoran yang 107 dan dia tidak mencoba lagi? Jawabannya juga sederhana, kita tidak pernah melihat ada gambar kakek tersenyum di pertigaan Jl. Sudirman, pertigan IAIN, maupun Malioboro.
Semua gambaran diatas hanya media untuk memotivasi semangat kita, bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jauh dekatnya kesuksesan hanya ditentukan oleh seberapa tekun dan kreatifnya kita. Bukan pada besarnya biaya yang kita keluarkan. Artinya, siapapun akan sukses, bila ia pandai mengelola potensi yang ada dalam dirinya. Tetapi, pernahkah kita berfikir bahwa kegagalan juga bisa hadir oleh kesalahan yang sangat sepele, begitulah orang-orang yang tidak menghargai 'proses'.


2.12.07

UNBREAKABLE WOMEN

SUNSILK UNBREAKABLE WOMEN CAMPAIGN

Tak ada yang patahkan semangatku
tekadku kuat jiwaku mantap
meski hariku kelabu
ku kembali ceria karenamu
sejak kau ada di hidupku
bersinar seindah mentari

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
begitu indah siapa yang memandangnya

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
kau berikanku semangat
jiwa ini selalu ada senyum di hatiku
selalu yakin dengan awal yang baru
meski badai datang mengganggu
tak kubiarkan semangatku layu
saat kau berikan kekuatan dan keyakinan…

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
begitu indah siapa yang memandangnya...

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
kau berikanku semangat jiwa ini...

”Di balik kelembutan dan kecantikannya, jiwa perempuan sejatinya tak terpatahkan, inilah esensi dari kampanye ’Sunsilk Unbreakable Women’ . Pesan sosial yang ingin disampaikan pada kegiatan ini adalah agar perempuan Indonesia menyadari kekuatan, kegigihan dan semangat tak terpatahkan di dalam dirinya demi mengejar impian dan dalam mengemban tugasnya.

”Unbreakable" memiliki makna bahwa apapun hambatan, rintangan, cobaan, penolakan dan kecaman menghalau jalan, seorang perempuan tetap yakin bahwa apa yang dijalankan merupakan yang terbaik bagi dirinya dan memberikan manfaat positif bagi lingkungannya.”

”Diharapkan dengan kampanye ini, semakin banyak perempuan Indonesia yang memahami kodrat dan kekuatan yang dimilikinya sebagai pribadi yang Unbreakable, sehingga apapun yang menjadi pilihan jalan hidupnya, setiap perempuan Indonesia senantiasa mampu memperlihatkan kekuatan yang dimilikinya. Walaupun rintangan dan halangan menghadang, hal tersebut tidak akan pernah membuatnya patah semangat.” Sunsilk, brand perawatan rambut dari PT Unilever Indonesia Tbk., memberikan penghargaan kepada tiga perempuan Indonesia yang dinilai memilliki dedikasi tinggi dan semangat yang tak terpatahkan, sebagai Unbreakable Women.

Pemberian penghargaan tersebut dilakukan dalam rangka peluncuran kampanye’Sunsilk Unbreakable Women’ dan sejalan dengan hadirnya inovasi terbaru Sunsilk Hairfall Solutions.Ketiga perempuan yang menerima penghargaan Sunsilk Unbreakable Woman Award adalah: Medina Kamil, reporter Jejak Petualang Trans 7; Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, aktivis sosial dan putri Sri Sultan Hamengkubuwono X; serta Elizabeth Wahyu, ibu rumah tangga dan desainer aksesoris.

Dengan latar belakang dan dinamika jatuh bangun ketiga sosok tersebut dalam menjalankan misi, mengemban tugas dan meraih cita-citanya, Sunsilk menilai bahwa mereka patut diberi penghargaan atas kekuatan, antusiasme, kegigihan dan semangat tak terpatahkan untuk memenuhi mimpi dan aspirasinya. “Ketiganya mewakili citra perempuan yang memang terlahir sebagai pribadi yang kuat, tangguh dan tak pernah patah semangat. Di tengah berbagai rintangan dan kesulitan yang menghadang di masing-masing bidang yang mereka geluti, ketiganya tetap konsisten dan memegang teguh komitmennya untuk tetap menjalankan apa yang menjadi panggilan jiwa-nya.

Dengan belajar dari perjalanan hidup mereka terutama pada keberhasilan mereka melampaui berbagai rintangan, para perempuan di Indonesia diharapkan dapat terinspirasi untuk melihat dan mengeluarkan sisi unbreakability dalam diri mereka.

Untuk mensosialisasikan kampanye Sunsilk Unbreakable Women, Sunsilk mengeluarkan lagu berjudul ‘Unbreakable’ yang dinyanyikan oleh Shanty yang sekaligus sebagai duta Sunsilk dalam program tersebut, dengan lirik yang memberi inspirasi dan semangat bahwa perempuan Indonesia terlahir sebagai pribadi yang memiliki kekuatan luar biasa yang harus mereka syukuri dan pertahankan.

Ehm... semoga strategi ini akan berhasil mendongkrak awareness publik.

1.12.07

ASAL USUL NAMA GARUDA INDONESIA















"Ik ben Garoeda,Vishnoe' s vogel, die zijn vleugels uitsland hoog hovenUw cilanden …".





Kalimat tersebut adalah baris pertama sajak gubahan RM Noto Soeroto yang dijadikan inspirasi bagi Bung Karno saat dimintai pendapat tentang nama perusahaan penerbangan yang akan diperolehnya pasca-Konferensi Meja Bundar.
Raden Mas Noto Soeroto (1888-1951) adalah cucu Paku Alam V. Ia lama hidup di Den Haag dan merupakan salah satu Pujangga Baru seangkatan dengan Armyn Pane. Sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda tahun 1922, banyak karya yang dihasilkan di antaranya Geboortejaar Raden Saleh (1913), Melatiknoppen (1915), dan Wayang-liederan (1920). Dalam sajak terakhir inilah terdapat kalimat tentang cerita burung Garuda yang gagah perkasa.
Garuda yang merupakan kendaraan Dewa Wishnu tersebut dapat membentangkan sayapnya terbang tinggi di atas kepulauan Nusantara. Dari situlah awal nama perusahaan penerbangan Garuda Indonesia Airways, sedangkan nama Wishnu kerap dipakai sebagai nick name Presiden dalam lingkungan kemiliteran hingga kini.

26.11.07

KERALA

KERALA TOURISM BRANDING
God's Own Country

Inilah brand experience dari Kerala, kota setingkat propinsi bagian kecil dari India yang memiliki pesona tersendiri, gaungnyapun memang kalah jika dibandingkan dengan "Incredible India" yang banyak orang lebih mengenalnya. Keunikan dan kekhasan Kerala terletak pada arah eco tourism. Konsep branding yang terstruktur dibumbui dengan ide kreatif yang matang dikemas secara profesional!. Kerala the one of ten paradises of the world - National Geograpic Traveler menyebutnya. Pantas jika disejajarkan dengan brand lainya di India dalam label SuperBrand India.
Dan inilah yang membuat saya semakin resah akan tourism branding kita. Hik...hiks...


After scouting the whole world, John and Nicola chose heaven.

Kerala wore a beautiful blue sky with cirrus clouds for the wedding of John and Nicola. Birds sang. The wind stayed faithfully with the hundred guests dressed in traditional Kerala attire, who flew in from Europe, New Zealand, South Africa and the United States. At the pier, a special honeymoon houseboat bobbed. Strains of the nadaswaram filled the air. The priest chanted the sacred prayers. As the music reached a gentle crescendo, John tied the thali around Nicola’s neck. They circled the sacred fire thrice. They exchanged rings. And were then pronounced husband and wife. As John and Nicola cruised into a magnificent sunset from Bolgatty Island, they fulfilled their long cherished dream – to get married in the most beautiful place on earth. All that remained was to live happily ever after.

For Serefa, it was like prayer. She surrendered completely and was cured.

Serefa closed her eyes as Vijaya massaged the warm golden oil into her back in slow, rhythmic movements. Around her, flowers danced. The smell of the oil and the ethereal fragrance of the incense were soothing. This was the last day of the fourteen-day ayurvedic holiday. Fourteen delightful days of rejuvenating regimens, medicated baths and herbal diets. Fourteen days that wiped away a five-year-old backache. Put the confidence back in her stride. The dance back in her limbs. Youth back into her life. And a smile back on her lips. As Serefa packed her bags she knew that Kerala had become an integral part of her life, where she would return year after year to revitalize her body, mind and soul.

Nine years ago, Corinne discovered true love while on holiday.
Today, her home is where her heart is.

Corinne first saw Krishna on a moonlit night in a temple ground. His eyes, his lips, his demeanour, his attire, everything mesmerized her. She spent an entire evening gazing at him. And somewhere during those magical hours while he engaged in a battle of wits with Arjuna, she fell in love. And a passionate Corinne renounced the world to learn the dance drama called Kathakali Nine years later, she teaches Kathakali to students from across the world. And somewhere in the back of her mind, she knows that she’ll never be able to leave this land where she first met her Krishna.


On a warm summer afternoon, 9,000 miles away from home,
Dianne stumbled upon the Goddess within..

As Dianne stood with one million women, cooking the favourite food of her Goddess, the heat of the blazing sun and the smoke from the countless pots did not deter her. As her pot boiled, she chanted aloud, knowing that the Goddess had accepted her offering. The priest passed by, blessing the infinite stretch of women - Hindus, Christians, Muslims… As a few drops of water fell on her head, she experienced the joy of a summer shower. In that split second, she knew that she would come again from the other end of the world for this incredible spiritual experience. As incredible as the quality of life and the religious tolerance that had endeared God's Own Country to her.

The story of a goddess called Marit Marit knew that she was changing. Suddenly, life was simple, light and airy. She smiled at everyone. And everyone smiled back. Human beings suddenly mattered. Like her driver Shajahan. Who drove her from historic Cochin to misty Munnar, from exotic Thekkady to enchanting Kumarakom, from dreamy Alleppey to sensational Kovalam. All along, he was an unobtrusive guide and a well-meaning friend. Before Marit packed her bags to leave, she decided to give Shajahan a gift - a car worth € 9500. Today, Marit sits like a goddess on Shajahan’s dashboard. And curious travellers hear the story of how his eyes filled with tears when Marit gifted him and his wife the key to a new future. As for Marit, it was just a little act of kindness inspired by God's Own Country.

Print Ads courtesy by Kerala Tourism

17.11.07

SOLO THE SPIRIT OF JAVA

BRANDING SOLO

“Jogja – Never Ending Asia” dan “Semarang – The Beauty of Asia” yang mencoba mengutilitasi kata “Asia” juga sering dipersepsikan sebagai me-too brand.
Surabaya, yang memperkenalkan “Sparkling Surabaya” (akan saya upload dilain waktu).
Solo tergolong cukup berani dengan The Spirit of Java – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X sempat mengakui bahwa “Java” lebih menarik dijual dibanding kata “Asia”.
Kesamaan bahasa dan budaya dalam suatu region tertentu, membentuk suatu komunitas yang kuat. Wilayah Solo Raya meliputi Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten atau dikenal dengan Subosukawonosraten. Orang-orang dari wilayah ini lebih senang mengaku sebagai orang Solo. Contohnya, penjual bakso asal Wonogiri bila ditanya lebih suka mengaku sebagai orang Solo. “Solo nya di mana mas?”, “Wonogiri”, begitulah mereka menjawabnya.

Solo merupakan nama lain dari kota Surakarta. Namun pada perkembangannya kata SOLO kemudian digunakan untuk masyarakat di wilayah ini untuk menyebut lokasi tinggalnya. Walaupun asal mereka dari Sukoharjo, Wonogiri atau Karanganyar mereka tetap menyebutnya sebagai orang Solo. Maka dari itu brand name SOLO the spirit of java, dipilih untuk menggambarkan keterikatan ini. Untuk bentuk kesatuan yang lebih jelas, wilayah atau region mempunyai logo sendiri. Logo region ini diturunkan dari logo utama SOLO the spirit of java. Logo ini terbentuk dari garis-garis lengkung yang terkesan berputar dinamis dengan pusat putaran berbentuk “Lung” yang merupakan stilasi dari delapan unsur filosofi hidup masyarakat Jawa.
7 goresan lengkung menggambarkan 7 distrik yang terdiri dari 6 Kabupaten dan 1 Kotamadya. 1 Lung yang menjadi pusat lingkaran menggambarkan visi bersama untuk maju sekaligus icon yang mewakili kekhasan lokal. Bentuk dan gerak lingkaran menggambarkan dinamisme dan semangat untuk maju bersama.

Terlepas dari teori maupun kunci sukses dalam menjalankan destination branding nya, kita tunggu impact dari Branding Solo The Spirit of Java ini...

Logo merupakan hasil besutan dari Freshblood Indonesia

SHANTI SHANTI SHANTI


BRANDING BALI

“…Kepada-Mu Tuhan yang menguasai dunia
Kuasa sealam semesta
Tiada satu menyamai-Nya…..….Cahaya-Mu Tuhan
Terang yang demikian nyata
Dalam sembah dan hening cipta
Kupusatkan seluruh daya
Satu Engkau TuhanYang terangi jiwa hamba
Dalam mengarungi dunia
Kuberjalan dengan cahaya
Om Shanti Shanti Shanti Om”

Bali sebagai sebuah merek (brand) bahkan sering jauh lebih terkenal daripada Indonesia. Sebuah fakta yang suka-tidak suka harus diterima. Pattaya, Maladewa, Samui, Hawaii, Malaysia, Australia atau daerah dan negara mana pun bisa menawarkan pantai seperti Bali. Tapi pernahkah mereka merasakan sebuah proses melasti yang dilakukan tiga hari sebelum Nyepi? Melasti merupakan sebuah prosesi ritual di pantai/sungai yg bertujuan membersihkan kotoran yang ada di bhuana alit (badan manusia) dan bhuana agung (alam semesta).

Pantai di Bali mengajarkan kita akan makna kehidupan, kebijaksanaan dan kedamaian. Tidak cukup?Setiap perayaan Galungan dan Kuningan, umat Hindu di Bali akan memasang penjor di depan rumah masing-masing. Penjor adalah tiang bambu tinggi yang dihiasi dengan janur, hasil bumi dan kain warna kuning-putih.

Gede Prama, konsultan manajemen yang berdasarkan penelitian merupakan salah satu tokoh bagi masyarakat Bali, menceritakan bagaimana penjor yang membubung tinggi dan di puncaknya melengkung ke bawah membawa makna kebijaksanaan untuk selalu rendah hati saat kita berada di atas. Dan satu-satunya daerah di dunia yang bisa menghentikan penerbangan selama satu hari penuh hanyalah Bali, saat Hari Raya Nyepi.

Program branding Bali dimulai dengan melakukan sosialisasi kepada semua stakeholder Bali: pariwisata, industri dan perdagangan, termasuk usaha kecil dan menengah. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian intensif selama 6 bulan, baik kepada pihak eksternal dalam hal ini wisatawan maupun internal, yakni pemerintah, masyarakat setempat dan pengusaha.

Penelitian intensif ini layaknya perjalanan pembelajaran kebijaksanaan akan makna kehidupan. Dari penelitian ini akhirnya ditemukan esensi branding Bali, yaitu Hindu Bali yang berbeda dari Hindu di daerah-daerah lain. Diferensiasi merek Bali adalah menawarkan objek budaya, alam dan lingkungan yang memiliki roh spiritualitas Hindu Bali dengan segala ritual yang penuh makna. Dari hasil analisis dan penelitian perbandingan dengan pesaing, juga terlihat jelas bahwa banyak pesaing yang menawarkan objek budaya dan alam, tetapi mereka tidak memilih roh spiritualitas yang mengakar. Inilah esensi branding Bali. Hal ini didukung dengan misi merek Bali, yaitu Tri Hita Karana, yang berarti tiga penyebab kebahagiaan, yaitu parhyangan (hubungan harmonis manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan harmonis antar manusia) dan palemahan (hubungan harmonis antara manusia dan alam). Ini merupakan misi mulia Bali yang mengakar secara kuat di dalam kehidupan masyarakat pulau itu. Misi mulia tersebut yang akhirnya akan memberikan rasa damai bagi setiap orang yang berkunjung ke Bali. Ada sebuah rasa yang berbeda saat kita mulai menginjakkan kaki di Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hati yang selalu merasa damai. Keunikan yang secara eksternal berbeda, tetapi mengakar secara internal. Akhirnya, berdasarkan analisis yang komprehensif dan perumusan strategi yang solid, ditemukan sebuah tujuan dan visi mulia Bali: menjadi The World’s Sanctuary of Harmonius Peace.

Bali menawarkan kedamaian bagi setiap pendatang. Kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Kedamaian yang hanya bisa dirasakan saat kita berinteraksi dengan budaya dan masyarakat setempat. Kedamaian hakiki yang berakar pada harmonisnya hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Brand positioning sebagai daerah yang menawarkan kedamaian itulah yang akhirnya menjadi dasar konsep visual dan komersial yang bisa membawa merek Bali sebagai sesuatu yang externally different dan internally inspiring.

Segi tiga adalah simbol sangat esensial dari kestabilan dan keseimbangan. Segi tiga terdiri atas tiga garis lurus. Ujung dari dua garisnya yang saling bertemu ini melambangkan jilatan api ke atas (Brahma-sang Pencipta), lambang lingga atau pallus (purusha). Segi tiga adalah juga perlambang tiga dewa penguasa alam semesta (Trimurti: Brahma, Wisnu dan Siwa), juga tiga tingkatan alam (Bhur, Bwah dan Swah Loka), tiga tingkatan hidup (lahir, hidup dan mati)Bentuk segi tiga juga menjelaskan esensi branding yang sangat diwarnai Tri Hita Karana, basis value yang akan membimbing kehidupan pada keseimbangan. Di luar penjelasan di atas, Hindu memiliki beragam filosofi tentang bentuk segi tiga yang umumnya menyatakan keberadaan dan kaitan seluruh makhluk ciptaan Tuhan dengan alam semesta. Motif ukiran flora yang simetris jika dilipat tepat pada garis tengah segi tiga, motif ukiran pada sisi kiri dan kanan simetris dan serupa. Hal ini untuk memperkuat kesan keseimbangan yang menjadi esensi terciptanya keharmonisan dan kedamaian sesuai dengan visi branding.

Ukiran bermotif flora tampil kuat dan dominan. Hal ini menggambarkan kuatnya kreativitas orang Bali yang dikenal sangat terampil melahirkan karya seni. Motif flora dipilih sebagai simbol kedekatan manusia Bali dengan alam, yang sekaligus menggambarkan salah satu keunggulan Bali, yakni alamnya yang indah (natural). Mahkota pada ujung segi tiga menggambarkan pencapaian tertinggi, kesadaran agung, keagungan dan kemuliaan, sebagai tujuan dari perjalanan meniti keseimbangan yang diisyaratkan nilai dalam Tri Hita Karana (keseimbangan dalam hubungan dengan sesama, lingkungan dan sang Pencipta).

Tulisan Bali didesain khusus dengan mengadopsi bentuk dan garis – garis khas dalam aksara Bali. Memilih huruf B dalam Bali dengan bentuk menyerupai angka 3 dan mirip aksara Ang (aksara suci Brahma). Bentuk tersebut juga untuk menjaga konsistensi konsep yang berbasis pada Tri Hita Karana, segi tiga dan tulisan Bali yang dimulai dengan huruf mirip angka 3.Bentuk yang spesifik tampak pada huruf L yang menjulang hingga menopang mahkota. Maknanya, dibutuhkan komitmen kuat dan langkah berkelanjutan dari seluruh stakeholder untuk mencapai tujuan tertinggi (mahkota).

Branding Bali menggunakan tiga warna yang sangat kuat mencerminkan Bali, yakni merah, hitam dan putih (tri datu). Merah adalah representasi Dewa Brahma, sang Pencipta; Putih – Dewa Wisnu, sang Pemelihara; dan Hitam – Dewa Siwa, sang Pelebur. Kolaborasi tiga warna yang merepresentasikan tiga dewa (Tri Murti) akan melindungi dan menjaga Bali beserta seluruh kehidupan di dalamnya agar tumbuh harmonis dan berkelanjutan bergerak maju dalam kedamaian. Kata “shanti” bermakna damai.


Jika mengucapkan kata “shanti”, kita akan dialiri spirit kedamaian dan keharmonisan. Bagi orang Hindu, “shanti” umumnya diucapkan tiga kali dengan menambahkan kata Om (aksara suci Ida Hyang Widhi Wasa-Tuhan Yang Maha Esa) pada awal dan akhir pengucapannya, yakni “Om Shanti, Shanti, Shanti Om” yang bermakna: semoga damai di hati, di dunia dan di akhirat. Pengucapan tiga kali juga konsisten dengan konsep awal yang berbasis pada penekanan pada angka 3 (Tri).

“Shanti, Shanti, Shanti” merepresentasikan kedamaian pada bhuwana alit dan agung (diri dan seluruh semesta) yang akan menggetarkan vibrasi kesucian hingga menebarkan aura dalam yang mendamaikan dan menyeimbangkan kehidupan semua makhluk.

Dari berbagai sumber
Logo : Ayip - Matamera Communication