Tampilkan postingan dengan label Graphic Project. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Graphic Project. Tampilkan semua postingan

1.11.08

SELF-PORTRAIT



Visual Art Exhibition
SELF-PORTRAIT
Famous Living Artists of Indonesia

I have a face, but a face is not what I am.

(Julian Bell, Five Hundred Self-Portraits, Phaidon, New York, 2000)

Setiap potret adalah duel—antara perwujudan dan peleburan diri; antara obsesi mengintip jiwa yang telanjang dan naluri untuk menyembunyikannya.

(Yudhi Soejoatmodjo, “Kolam Narsisus Poriaman”, Tempo, 27 Februari 1993)


Hampir dipastikan, dalam sejarah hidup dan karir perupa, ia pernah menggambar dan memotret dirinya. Potret diri (atau “diri” yang lain) berbentuk foto, patung, lukisan, atau seni lainnya menyimpan segudang masalah. Hidup di antara problem mimetik, kesenangan, seni pesanan, atau pada waktu yang sama dibuat untuk sekadar mengejar nilai estetik. Problem tersebut biasanya lahir ketika persilangan antara kesempatan dan konfrontasi diri seniman, antara sifat romantisme dan kecenderungan sentimentalisme (lebih kasar mungkin disebut Narsisme) berbaur.
Potret di sini bukanlah sebuah gambar mengenai aktivitas kehidupan. Potret lebih banyak bergerak pada tataran sebuah catatan peringatan, buah pikir serta akhirnya berfungsi sebagai “korban” atas dirinya sendiri. Sang seniman lebih banyak berujar mengenai banyak hal dalam karyanya dengan memakai tubuh, wajah, imaji tentang dirinya sendiri. Ia tidak menggambarkan realitas dengan sebuah citra atau sekumpulan tanda-tanda di luar dirinya, tetapi lebih pada “mendera” diri untuk mencapai situasi yang kadang tampak ekstrem.
Perkara lukisan potret diri, dalam sejarah seni rupa telah berkembang pesat. Seni potret telah muncul sejak era seni Timur Jauh (1500 SM.) dan Mesir Kuno yang hidup selama 4000-an tahun. Terbukti dengan adanya bentuk potret diri pada lukisan dinding piramid, selain pada bentuk-bentuk seni patung lainnya. Kala itu perkembangan potret memang bukan mengejar penampakan volume dan kepersisan wajah, namun hanyalah sekadar simbolisasi dari raja-raja yang mereka hormati. Seniman pada masa ini belum tampak mengekplorasi dirinya sendiri.

Di era Romawi kuno potret diri mulai terasa naturalistik, setengah bervolume, namun masih nampak dekoratif. Selain pada lukisan, mereka juga mengembangkan pada patung batu, logam dan lilin dengan kecermatan yang lebih berkembang dari masa sebelumnya. Barulah pada abad ke-15 dan 16 di era Kristen kuno di Eropa, potret diri semakin berkembang pada fungsi agama. Di sela penggambaran Maria dan Jesus (atau sering pula disebut ikon) banyak diproduksi untuk gereja, wajah-wajah seniman muncul sebagai bagian dari representasi physiognomy (ilmu firasat) individu, pelukis itu adalah Pisanello dan van Eyck. Pisanello mengembangkan potret dirinya sebagai profil pada medali (logam), sedang van Eyck melukis dirinya sebagai orang lain pada karya Giovanni Arnolfini and his Wife.
Di era Renaissans, potret diri berkembang sebagai bentuk seni pesanan sangat kuat. Para patron, penguasa, pemimpin gereja menjadi pemesan yang sangat dihargai oleh seniman. Ukuran dan gaya lukisannya tampak sedemikian menarik, berkembang lebih bervolume, realistik, dan cenderung dilebih-lebihkan sekaligus romantis: yang jelek nampak cantik, yang cacat dimanipulasi, dan yang biasa dibuat berwibawa. Di masa ini potret diri selain sebagai wujud visual, namun kadang juga dicampuri dengan suasana mitos dan pesan religi. Di sini muncul nama-nama pelukis seperti Veronese, Titian, Tintoretto, Botticelli, dan Velasquez.
Pada era modern seni potret berkembang menjadi aktivitas utama hampir pada setiap seniman. Selain memotret orang lain, sang perupa selalu menyediakan waktu untuk mendokumentasi dirinya pada karya-karyanya sendiri, baik dengan sketsa, lukisan, patung maupun seni grafis. Potret diri seolah telah menjadi satu kajian tersendiri bagi seniman. Ia memiliki fungsi membawa ego seniman-yang merasa telah dikenal oleh publik-sebagai manusia yang patut untuk dilihat, dicatat, sekaligus dihormati.
Tak kurang seperti Rembrandt dengan amat jeli menampilkan perkembangan dirinya sendiri sejak muda hingga tua: berjenggot dan hampir mati. Puluhan potret dirinya lahir sebagai catatan perkembangan seni yang menandakan upaya seniman bahwa sesungguhnya potret diri telah menjadi satu peruntungan dan tanda perjalanan. Paul Cezanne dan van Gogh melukis dengan gaya Impresionismenya, Picasso memunculkan abstraksi potret dirinya dengan gaya kubis, hingga kemunculan seni potret wajah milik Warhol pada pop art yang dibuatnya dengan warna-warna cerah tahun ‘60-an. Di tahun ‘70-an muncul lukisan megapotret hiperrealis milik Chuck Close.
Seni modern Indonesia memunculkan seni potret dengan cerita yang menarik. Raden Saleh memulai dengan kesadaran Romantikisme yang didapatkan dari tempat gaya itu lahir. Ia berhasil mendokumentasi sekian puluh wajah para pesohor Jawa dan beberapa lainnya dengan teknik yang sangat sempurna. Munculnya seni potret Affandi yang berhasil mengeksploitasi dirinya sendiri pada tingkat yang paling ekstrem; menggambar pose telanjang sebagai sarana mengenal dirinya sendiri dengan cara berdiri pada sebuah cermin.
Namun di tangan Basoeki Abdullah seni potret tampil dengan kesadaran mimetik dan kesenangan (pleasure). Dibuat dengan keterampilan yang tinggi dan dalam tempo tak lama. Dari tangannya muncul ratusan karya potret orang lain dan beberapa tentang dirinya sendiri. Bila tangan Affandi menggenggam pisau, tangan Basoeki menghadirkan bunga. Sejak itu seni potret di Indonesia berkembang diantara ribuan ide.
Namun jika melacak berbagai kecenderungan yang lebih umum dalam konteks seni rupa dunia, karya ‘potret diri’ selama ini memiliki kecenderungan:

  1. IDENTITAS: Memperlihatkan isu tentang identitas diri di seniman secara utuh, tanpa dibebani oleh isu dan konteks yang lain atau menjadi catatan dan sejarah pribadi dengan kompleksitas psikologi si seniman. (Rembrant van Rijn melukis dirinya sendiri sebagai catatan wajah di setiap usia, bisa lihat van Gogh)

  2. TESIS & EKSPERIMENTASI: Memperlihatkan kecenderungan eksperimentasi dan kreativitas media atau teknik dalam visualisasi potret diri. Bahkan dapat pula sebagai bagian dari sarana pengajuan tesis baru dalam kreativitas seni. (Gustave Courbet ketika memproklamasikan Realisme, Egon Schiele dengan memanfaatkan fotografi untuk mengeksplorasi lukisan cat airnya, Salvador Dali dengan gaya surealistik, Dubuffet dengan Art Brut, Yoshimasa Morimura dengan gaya objek buah-nya, Yue Ming Jun atau Fang Li Jun dengan karakter kepalanya yang khasnya)

  3. KONTEKS SOSIAL & SEJARAH: Memperlihatkan hubungan antara berbagai hal, situasi dan kondisi yang sedang berlangsung pada saat ini maupun dengan konteks sejarah (masa lalu) peradaban dengan diri si perupa. Dalam hal ini dapat dilihat pula bahwa posisi seniman sebagai makhluk sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat. (Leonardo da Vinci pada Monalisa atau Shirin Neshat dalam karya Seeking Martyrdom, 1955)

  4. Kecenderungan yang mengarah pada percampuran ide-ide baru yang mungkin belum tercatat dalam sejarah.


Dalam pameran ini diharapkan perupa melukiskan dirinya sendiri (dalam hal ini ekplorasi wajah sangat dan lebih diharapkan), sesuai dan secara jujur diakui sebagai bagian dari karakter yang dimilikinya saat ini. Adapun perihal media, dibebaskan: lukis, patung, grafis, sesuai dengan kebiasaan dalam berkarya seni. Dalam hal ini kurator akan membaca berbagai peragai yang muncul dalam setiap karya potret diri yang dihasilkan perupa. Sampai sejauh manakah wacana ‘potret diri’ di tangan perupa pada masa kini? Perupa dapat melakukan eksplorasi wacana atau disesuaikan dengan gaya karyanya, atau dapat pula memilih kecenderungan (klasifikasi) yang telah diungkap di atas.
Pameran ini mencoba memetakan ‘peristiwa’ melalui wajah para perupa.


Curated by Mikke Susanto
Logotype & All of Material promotion design by Agung Rudianto
Image taken from artwork of F. Sigit Santoso, Aku Bukan Mesias, 2008

23.7.08

SETAN ORA DOYAN DEMIT ORA NDULIT - KALA SURA





























Work for Kris & Visual Arts Exhibition "Sacred Without Mystique" (Jogja Gallery)

21.6.08

27.5.08

REDESIGN COVER - SAMSARA


Banyak sekali keajaiban-keajaiban yang telah terjadi dalam kehidupan kita yang sepertinya terjadi begitu saja dan pada tempat dan waktu yang kita tidak pernah tahu. Terlalu banyak hal yang membatasi kita untuk melakukan banyak hal yang lain menjadi terhenti. Tanpa kita sadari kita hanya berdiam diri dan telah menyia-nyiakan momen-momen tersebut. Kumpulan tulisan yang terangkum dalam Samsara ini merupakan esensi manusia dalam trilogi kehidupan, bumi dan cinta. Sebagian besar tulisan menampilkan figur-figur dan hal-hal yang nyata dan dekat dengan kehidupan kita, dan penulis sendiri merupakan bagian dari semua itu. Bahwa kita yang mendiami bumi ini hanyalah esensi hidup yang sama dan berasal dari pencipta yang sama. Bahwa dengan pemahaman akan cinta yang lebih manusiawi, kita akan lebih bisa memaknai momen-momen kehidupan yang terjadi dengan lebih lebih bijak. Bahwa bumi dan kita adalah sama. Dan semua manusia adalah individu-individu yang sama dan memiliki potensi menjadi apapun yang mereka mampu lakukan, dengan cara mereka sendiri, walau pada kenyataannya akhirnya kesempatan yang didapat berbeda. Tetap, semua dinilai dari kualitas hidup bukan kuantitas.

Samsara (bahasa sansekerta: siklus kelahiran) merupakan sebuah kesimpulan hakikat keberadaan kita di bumi. Kenapa kita lahir dan untuk apa? Akan menjadi siapa kita? Pencipta telah membuatkan masing-masing dari kita sebuah buku kehidupan dan tugas kita untuk menulisinya dan menentukan hasil akhirnya! Tak ada yang sia-sia walau kecil.

Design cover kumpulan catatan dari putra Bali Putu Pande Setiawan ini adalah lebih kepada redesign dari edisi sebelumnya yang telah launch pada awal Februari 2008 yang lalu, namun masih terbatas publik Bali dan Bandung, nah untuk cetakan selanjutnya tentunya akan di launch ke publik yang lebih luas. Edisi ini merupakan edisi popular dari jilid I trilogi yang bakal di publish di tahun ini juga, tentunya dengan format yang lebih elegance dan tentunya dengan ilustrasi rupa hasil besutan dari para artist ternama pada tiap lembar halamannya, kita tunggu.

Penulis: Pande Putu Setiawan
Cover by : Agung Rudianto
Model : Rere

10.5.08

SETELAH 20 MEI - 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL






















































Pameran Seni Visual 100 tahun Kebangkitan Nasional
Brand Image, Cover & Catalogue by : Agung Rudianto
Artwork diolah dari Karya Y. Indra Wahyu, Asasi Per@ Mudah Pecah, 2008

30.4.08

SEMAR NGGAMBAR SEMAR - SUJIWO TEJO

Sebagai seniman lukis, ia tergolong baru. Dulu (saat masih bekerja di harian Kompas) Jiwo merasa bahwa seorang pelukis adalah individu yang kering dan sangat statis. Jiwo membandingkannya dengan dunia seni wayang dan seni pertunjukan lainnya yang digelutinya, cenderung dinamis dan penuh pergolakan pemikiran antar person yang terkait di dalamnya. Oleh sebab itu ia terkadang tak bergairah ketemu atau pada saat ditugaskan meliput seorang pelukis. Namun kenyataan ini berbalik. Sejak tahun 2005 ia mulai membuat sketsa dan melukis di atas kanvas, sembari tetap berkreasi sebagai seniman pertunjukan: seni dalang, teater, film, animasi. Semasa ini ia mencoba beragam teknik dan gaya, termasuk membuat seni potret. Sampai saat ini pun ia telah banyak menghasilkan potret diri orang-orang maupun pejabat terkenal di negeri ini. Sejak Agustus 2007 ketertarikannya pada sosok Semar dimantapkan kembali dalam lukisan. Sejak itu pulalah ia merasa bahwa seni lukis menjadi teman akrabnya. Ia juga merasakan bahwa salah satu keunggulan seni lukis adalah sebagai media yang sangat menerima respek individual sekaligus dinamis. Pendek kata, Jiwo kini merasa bahwa seni lukis bukanlah lahan kering dan statis. Buktinya, hampir setiap malam ia melakukan ‘tapa kreatif’ dengan mengores warna di atas kanvas.

Pameran Semar Nggambar Semar adalah kelanjutan dari proyek pameran tunggalnya di Jakarta (bertajuk Hitam Putih Semar Mesem, 2007) dan Surabaya (bertajuk Super Semar Mesem, 2008). Diambilnya Semar sebagai tokoh memang tak lepas dari pergumulannya dengan wayang sejak kecil. Dalam pameran-pameran tunggalnya tersebut, terutama pada Semar Nggambar Semar kali ini, Jiwo ingin meletakkan dasar bahwa Semar bukanlah semata-mata ‘kata benda’ berupa manusia atau sosok dengan kejelasan rupa. Dalam pameran ini ia juga meletakkan persepsi Semar juga sebagai ‘sesuatu yang lain’, bisa jadi Semar adalah sebuah sistem (lihat karya Pangeling-eling Semar to Pamong Nagari & Galaksi Semar Sakti), pola maupun kode-kode alam (Semar Global Warming, Semar Moksa, Semar Gulungan) sekaligus mungkin sebagai sebuah tafsir bebas tak ternamakan. Esensi bahwa Semar adalah sosok yang tak-terpersonifikasikan dan sesuatu yang “samar” adalah konsep utama dalam pameran-pamerannya. Oleh sebab itu, selain gambar-gambarnya berujud sosok Semar yang jelas, maka muncul juga karya yang tak tergambarkan sebagai sosok.

Kontinuitas kreatif dalam berkesenian membuatnya ia merasa dekat dengan sosok Semar. Intensi yang sedemikian dekat, luruh dalam segala aspek, dan bergejolak bersama menjadikan Semar adalah dirinya dan dirinya adalah penampakan Semar. Pengenalan dan penjiwaannya atas tokoh Semar menginspirasi hidupnya. “Semar itu seakan berada di beragam dimensi, ia bisa sembahyang di segala waktu dan ruang,” tutur Jiwo. Inilah yang menyebakan Jiwo ingin juga mempertautkan pola dan peran baru bagi dirinya sendiri, sosoknya berdiri sebagai Semar.

Maka lahirlah sejumlah karya dalam pameran ini yang berhasil mengarungi jiwa Semar, sang guru Ramawijaya dan para Pandawa.

Source : Petikan Pengantar Kuratorial by Mikke Susanto
Icon & Brand Image by : Agung Rudianto
Artwork : Semar Moksa #2, Sujiwo Tejo 2008

PERGELARAN FOTO, FILM DOKUMENTER & BENDA KENANGAN FATMAWATI SUKARNO


















Logo by Panitia 85 Tahun Fatmawati Sukarno
Motif & Pattern by : Agung Rudianto

24.4.08

BALI ART NOW


SENI PULAU DEWATA DI BUMI MATARAM UNTUK INDONESIA

Pameran seni visual ‘Bali Art Now: Hibridity’ kali ini merupakan suatu persembahan gelaran seni visual yang langka. Para perupa kelahiran pulau Dewata, bagaimanapun juga telah memiliki daya aura seni budaya yang kental , warisan dari para leluhurnya. Bagi mereka seni budaya adalah persembahan terbaik diri pribadi bagi Tuhan YME. Dalam perjalanannya mereka menimba ilmu di berbagai tempat, baik di Jogja maupun di Bali. Perpaduan antara jiwa seni asli dan proses ‘belajar’ di berbagai tempat inilah yang melahirkan senirupa kontemporer penuh daya pikat yang sangat khas dan menarik.

Source : Dipetik dari Sambutan Direktur Eksekutif Jogja Gallery untuk Pameran Bali Art Now : Hibridity
Brand Image by : Agung Rudianto
Artwork by : I Made Gede Putra, Pohon Masa Depan, 2008

31.3.08

MARIANA ULFAH WEDDING



CELEBRATIONS OF LOVE

Pertemuan warna dan penataan interior bukan sekedar tontonan yang menyegarkan mata, tetapi juga memerlukan pemikiran yang tepat untuk melakukannya. Memadu-padankan tatanan sebuah dekorasi dengan segenap complimentarynya menjadi menarik dan inspiratif adalah tantangan sekaligus kepuasan tersendiri.

Desain guidelines acara pernikahan ini mengacu pada
workshop Trend Forecast 2008 untuk Desain Produk dan Fashion baik yang di Jakarta maupun kota besar dunia lainnya, bahwa warna ungu tua yang terinspirasi kota modern di malam hari mewakili nilai optimisme plus hijau yang terinspirasi dari hutan-hutan di Asia sebagai tren. Sedangkan, inspirasi lain yang datang dari India , Moroko maupun negara Asia Timur lainnya, yaitu motif bunga, detail dan simbol-simbol yang didominasi warna perak, abu-abu, emas, cokelat, kuning, dan hijau.

Atas dasar itulah yang menguatkan saya bahwa formulasi kombinasi warna yang tepat dapat menghasilkan kemampuan warna untuk berbicara lebih dalam. Warna ungu dan hijau menjadi pilihan disamping warna-warna pendamping lainnya seperti perak, emas, merah tua dan coklat kemerahan. Warna ungu dimunculkan untuk memberikan kesan magis dan memiliki soul searching quality yang kuat sehingga dapat membawa ketenangan di hati bagi setiap tamu dan kolega yang hadir.



















































Art Direction & Design : Agung Rudianto
Location : Ballroom Hyatt Regency Yogyakarta

22.3.08

"69 SEKSI NIAN"



Even ini merupakan event pameran seni visual yang diadakan dalam rangka peringatan dan perayaan ulang tahun ke 69 dr. Oei Hong Djien. Sebuah angka unik, seunik sosok dr. Oei. Sosok yang tak diragukan lagi kiprah dan perannya nya dalam jagad seni rupa Indonesia. Even ini sekaligus menandai penyelenggaraan pameran yang ke-25 sejak Jogja Gallery berdiri 19 September 2006 di Yogyakarta dimana dr. Oei memiliki peran besar bagi Jogja Gallery.
Angka 69 memiliki arti tersendiri dalam perjalanan hidup dan karier dr. Oei di tengah perkembangan seni visual Indonesia hingga saat ini. Ke-69 karya dari 69 perupa yang diundang dan didisplay bersamaan dalam satu panel.

Selamat berpameran, selamat berpesta, selamat berdansa !

Visual Art Exhibition '69 SEKSI NIAN' at Jogja Gallery
Brand Image by: Agung Rudianto

11.3.08

DIBUANG SAYANG










































Nah ini adalah sebagian logo-logo yang pernah ane buat, banyak yang terpakai, banyak juga yang tidak terpakai, ada yang menang dalam sayembara, ada juga yang tidak, ada yang hadiahnya lumayan, ada juga yang ala kadarnya, ada yang sudah dibikin tapi ga sempet ato lupa ngirim (lupa deatline), ada logo yang bikinnya terlalu serius, kadang juga hanya karena iseng, kadang juga ada yang panitianya gak jelas, ada yang hasil rancangan sendiri, ada juga yang hasil kolaborasi. Kolaborasi dengan temen kantor ato pernah juga kolaborasi dengan ex team creativenya Landor Tentunya masing-masing logo punya cerita dibalik proses perancangannya, terkadang melelahkan dengan proses yang lumayan memakan waktu panjang, ada juga yang kadang super cepat. Kadang ketemu klien yang sangat menghargai desain dengan segala proses dan rentetannya hingga membayarnya dengan sangat layak, kadang juga gak mau bayar alias kemahalan, he..he.. sejuta cerita sejuta makna. Intinya adalah saat klien dan desainer sadar bahwa serangkaian proses adalah tahap belajar dan saling memahami * yg sebetulnya jadi kebutuhan -
kemungkinan besar merupakan titik terang dalam mencapai desain yg dianggap 'baik'....Wuih....

*) memahami disini adalah
bukan diartikan sebagai desain yang berkompromi...karena kompromi = moderation, yang berarti, tidak akan pernah menghasilkan yang 'istimewa'.

Mo liat karya arsitektur, interior ato grafis yang lain ? link aja ke http://www.mahareka.com

SASANTI RESTAURANT & GALLERY



Penggalan kata Sasanti dari Srisasanti Gallery sesungguhnya adalah sebuah nama yang didedikasikan bagi seorang perempuan, bukan tokoh luar biasa dan terkenal, tapi ‘hanyalah’ ibu rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga, yang selama lebih dari 70 tahun hidupnya dicurahkan kepada keluarga dan lingkungannya dengan penuh kasih sayang dan dedikasi ke-ibuan.


Sasanti, sebuah kata yang apabila boleh dipersamakan dengan kata SAZANTI yang berarti jalan menuju kebahagiaan, kedamaian, dan kebijakan.
Makna SAZANTI ini lah yang akhirnya menginspirasi Ketut Arthana seorang arsitek Bali, CS Emmy Pratiwi, dan St. Eddy Prakoso untuk menamai sinergi mereka dalam rupa kawasan Resto & Gallery seluas +/- 2700 m2 di bilangan jalan Tentara Palagan, Monjali Yogyakarta yang bernuansa asri, artistic, dan menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi nusantara. Di kawasan tersebut, selain terdapat Srisasanti Gallery, terdapat pula sebuah restoran yang bernama Sasanti.

Serangkaian desain dan ilustrasi corporate identity SRI SASANTI & SASANTI diinspirasi oleh manuskrip kuno Jawa yang didalamnya memuat makna dari inti keindahan dan kehidupan yang sejatinya.
Manuskip jawa kuno ini di populerkan oleh Romo Zoetmolder. Pemuatan manuskrip selain bertujuan untuk memberi makna visual juga bertujuan untuk memperkuat karakter Sri Sasanti.

Sebuah proses panjang dan melelahkan tentunya dalam proses pencarian dan perancangannya.....terima kasih mas revy untuk skrip jawanya, hampir saja mbelot dari konsep awal, kalo gak ada sampeyan, he..1000x.

Photo : SriSasanti Gallery

Concept Design : Agung & Andie Wicaksana
Kaligrafi Jawa : Revianto B. Santosa (Cultural Observer)

Design Logo Sri Sasanti : Agung & Andie Wicaksana
Design Logo Sasanti Restaurant & Gallery : Agung



5.2.08

KOMEDI PUTAR


“Komedi Putar” (“Merry-Go-Round”) selalu dikaitkan dengan pesta rakyat, tidak saja di Indonesia akan tetapi juga pada pesta rakyat di seluruh dunia. Pesta rakyat tersebut sering dikaitkan dengan upacara keagamaan atau peringatan lain seperti dimulainya masa tanam, masa panen, peringatan kemerdekaan, dll. Esensinya adalah bahwa rakyat memerlukan suatu forum untuk berkumpul dan mengungkapkan harapan dan rasa syukurnya. Pameran Seni Visual “Komedi Putar”, yang diselenggarakan untuk merespons “Sekaten”, yakni Pasar Malam dan agenda tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang merupakan bagian dari tradisi kebudayaan sekaligus religi masyarakat Yogya. Dan sesungguhnya peristiwa ini bermakna lebih jauh. Betapa luasnya, betapa dalam dan tingginya makna peristiwa “Komedi Putar” ini sebenarnya. Peristiwa ini pasti jauh lebih dari sekedar peristiwa kesenian, atau peristiwa kebudayaan, atau dalam terminologi yang biasanya secara umum dipakai – bahwa kita sedang memacu tegaknya kembali seni tradisi di tengah mania modernisme, kapitalisme dan industrialisme kebudayaan yang secara sangat dahsyat mengikis dan memusnahkan identitas original masyarakat dan bangsa kita.
Kalau kita membatasi diri pada gambar “Komedi Putar”, maka skala waktunya mungkin 2-3 abad,
berurusan dengan sejarah tamu tak diundang yang bernama Belanda. Kalau batasnya adalah “Sekaten”, jangka waktu pragmatisnya paling jauh bersamaan dengan masa hidup Kerajaan Mataram. Tapi kalau “Sekaten” ditemukan pada konteks “Syahadatain” maka skala waktu nilainya adalah 17 abad ke belakang. Bahkan kalau Penyelenggara Pameran ini mengacu pada tradisi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, berarti batas konteks kita adalah juga 2-3 abad.

Tetapi kalau kita “slulup” ke kata Hamengku Buwono, Mangku Bumi, serta pola gelar pucuk kewibawaan Jawa yang menggunakan kata “Sultan” (dalam Al-Quran “sulthan” artinya kekuatan ekstra penembus langit dan bumi) – maka kita akan “curiga” bahwa “Bangsa” yang melahirkan Indonesia sampai Majapahit sampai Mataram Kuno, yang melahirkan Jawa Sunda Melayu dst pasti bukan “Bangsa” yang dipimpin oleh “Raja” yang sekedar “Hamengku Yogyakarta” atau “Mangku Mataram”, tetapi “memangku bumi dan semesta”.

“Komedi Putar” ini bak cermin berputarnya kesadaran dan peradaban di mana kita sedang hidup.

“Jangan berhenti berputar lho, nanti kehilangan komedi…”.

Emha Ainun Nadjib
Kadipiro, 23 Februari 2008

Artwork : Agung Rudianto untuk Pameran Komedi Putar Jogja Gallery

7.12.07

ARTMOSPHERE ACADEMIC



















Artwork by Agung Rudianto, Nov 2007















Campaign & Promotions Pinasthika Ad Festival ini adalah pada dasarnya merupakan pengembangan desain dari Srengenge Ad. memenangkan pitching agency partner Pinasthika 2006, dengan mengusung tema 'Lawan Keterbatasan, Raih Kemenangan'. Setelah penambahan sana-sini melalui brainstorming dan pemotretan ulang dengan bala PPPI Jogja maka 1 versi hasilnya seperti yang Anda dapat lihat.

Photography by Srengenge Adv., Design by : Agung & Andi (Eyecatch Indonesia)

COVER BUKU 250 TAHUN JOGJA













Lumayan lah bisa menjadi bagian sejarah 250 tahun Jogja, walaupun hanya melalui desain cover bukunya, he..2.. thanks PT. Gudang Garam Tbk. , Dewan Kebudayaan Yogyakarta & Mr. Revianto










Design by Agung Rudianto
Photography by Bambang Tri Atmojo (DUOTONE PHOTOGRAPHY)

INTERNATIONAL EXPERTS MEETING




International Experts Meeting for the Rehabilitation of Earthquake-affected Prambanan World Heritage Site and Taman Sari Water Castle, 5-8 March 2007 - Yogyakarta, Indonesia



An International Experts Meeting on the rehabilitation of earthquake-affected Prambanan World Heritage Site and Taman Sari Water Castle gathered international and national experts in Yogyakarta (from 5-8 March 2007) with a view to prepare an integrated action plan for the post-earthquake recovery and rehabilitation works at these important cultural sites. This meeting was organized jointly by UNESCO Office, Jakarta and the Department of Culture and Tourism of the Republic of Indonesia, with the funding support from the Kingdom of Saudi Arabia.


Source : UNESCO
Design by : Agung Rudianto, March 2007

THE THOUSAND MYSTERIES OF BOROBUDUR


SEBUAH CATATAN SEJARAH
KEMEGAHAN BOROBUDUR

Desain campaign pameran yang telah lewat beberapa bulan lalu ini sayang kalau tidak di upload, ....he...he...

Sejatinya pameran tersebut mencoba melihat kembali sejarah, maupun cerita-cerita misteri mengenai Borobudur. Misteri-misteri ini sebenarnya merupakan berbagai temuan yang berkesan dan muncul di tengah masyarakat, misalnya mengenai danau purba yang terletak di area candi Borobudur, rahasia di balik angka-angka yang terdapat di Borobudur, hingga pencarian sosok Borobudur yang sebenarnya. Berbagai catatan penelitian, baik berupa teks maupun karya visual lainnya dihadirkan dalam upaya memberikan informasi kepada pengunjung. Karya-karya lukis maupun instalasi yang dipamerkan dalam pameran ini mencoba menyalurkan informasi seputar Borobudur. Pameran ini menghadirkan beberapa patung yang masih terasa sangat asing sebagai puncak dari seluruh pameran. Patung unfinished Buddha, yang akan menjadi puncak pameran ini mungkin terasa sangat asing. Patung ini merupakan patung yang berada di dalam sebuah stupa teratas dai Borobudur. Tidak hanya karena patung ini berada di puncak teratas stupa Borobudur saja, patung yang belum jelas sikap tangannya inilah yang justru menjadi daya tarik. Patung ini terlihat belum selesai di beberapa bagian sehingga susah untuk diidentifikasi.Selain unfinished Buddha, pameran ini juga akan memamerkan sebuah Stupica, stupa kecil yang berasal dari abu dan tanah. Stupa Budha versi kecil ini diduga dibuat bersamaan dengan dimulainya pembangunan Borobudur. Walau terkesan seperti buah tangan khas Borobudur, namun Stupica adalah sebuah peninggalan dari perjalanan Borobudur. Berbagai kegiatan dan berbagai karya digelar untuk menyemarakkan pameran ini tidak keseluruhannya diselenggarakan di Jogja Gallery. Kegiatan yang sangat variatif seperti Fun Heritage Trail yang diselenggarakan di Borobudur merupakan bagian dari pameran The Thousand Mysteries of Borobudur. Kehadiran pameran bertema Borobudur merupakan kesempatan yang langka untuk mengetahui dan mengenal lebih jauh sebuah peradaban dan budaya, yang merupakan bagian dari keberagaman Indonesia.

Well, senang menjadi bagian dari peristiwa yang langka hasil besutan dari UNESCO, Departemen Budaya dan Pariwisata, Jogja Gallery yang telah mempercayakan segala urusan desain dan materi promosi nya pada kami. TQ
Artwork : Sebuah Pencapaian, Ismanto 2007
Design : Agung Rudianto, 2007