2.12.07

UNBREAKABLE WOMEN

SUNSILK UNBREAKABLE WOMEN CAMPAIGN

Tak ada yang patahkan semangatku
tekadku kuat jiwaku mantap
meski hariku kelabu
ku kembali ceria karenamu
sejak kau ada di hidupku
bersinar seindah mentari

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
begitu indah siapa yang memandangnya

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
kau berikanku semangat
jiwa ini selalu ada senyum di hatiku
selalu yakin dengan awal yang baru
meski badai datang mengganggu
tak kubiarkan semangatku layu
saat kau berikan kekuatan dan keyakinan…

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
begitu indah siapa yang memandangnya...

Unbreakable..Unbreakable..
kau kuatkan diriku
kau berikanku semangat jiwa ini...

”Di balik kelembutan dan kecantikannya, jiwa perempuan sejatinya tak terpatahkan, inilah esensi dari kampanye ’Sunsilk Unbreakable Women’ . Pesan sosial yang ingin disampaikan pada kegiatan ini adalah agar perempuan Indonesia menyadari kekuatan, kegigihan dan semangat tak terpatahkan di dalam dirinya demi mengejar impian dan dalam mengemban tugasnya.

”Unbreakable" memiliki makna bahwa apapun hambatan, rintangan, cobaan, penolakan dan kecaman menghalau jalan, seorang perempuan tetap yakin bahwa apa yang dijalankan merupakan yang terbaik bagi dirinya dan memberikan manfaat positif bagi lingkungannya.”

”Diharapkan dengan kampanye ini, semakin banyak perempuan Indonesia yang memahami kodrat dan kekuatan yang dimilikinya sebagai pribadi yang Unbreakable, sehingga apapun yang menjadi pilihan jalan hidupnya, setiap perempuan Indonesia senantiasa mampu memperlihatkan kekuatan yang dimilikinya. Walaupun rintangan dan halangan menghadang, hal tersebut tidak akan pernah membuatnya patah semangat.” Sunsilk, brand perawatan rambut dari PT Unilever Indonesia Tbk., memberikan penghargaan kepada tiga perempuan Indonesia yang dinilai memilliki dedikasi tinggi dan semangat yang tak terpatahkan, sebagai Unbreakable Women.

Pemberian penghargaan tersebut dilakukan dalam rangka peluncuran kampanye’Sunsilk Unbreakable Women’ dan sejalan dengan hadirnya inovasi terbaru Sunsilk Hairfall Solutions.Ketiga perempuan yang menerima penghargaan Sunsilk Unbreakable Woman Award adalah: Medina Kamil, reporter Jejak Petualang Trans 7; Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, aktivis sosial dan putri Sri Sultan Hamengkubuwono X; serta Elizabeth Wahyu, ibu rumah tangga dan desainer aksesoris.

Dengan latar belakang dan dinamika jatuh bangun ketiga sosok tersebut dalam menjalankan misi, mengemban tugas dan meraih cita-citanya, Sunsilk menilai bahwa mereka patut diberi penghargaan atas kekuatan, antusiasme, kegigihan dan semangat tak terpatahkan untuk memenuhi mimpi dan aspirasinya. “Ketiganya mewakili citra perempuan yang memang terlahir sebagai pribadi yang kuat, tangguh dan tak pernah patah semangat. Di tengah berbagai rintangan dan kesulitan yang menghadang di masing-masing bidang yang mereka geluti, ketiganya tetap konsisten dan memegang teguh komitmennya untuk tetap menjalankan apa yang menjadi panggilan jiwa-nya.

Dengan belajar dari perjalanan hidup mereka terutama pada keberhasilan mereka melampaui berbagai rintangan, para perempuan di Indonesia diharapkan dapat terinspirasi untuk melihat dan mengeluarkan sisi unbreakability dalam diri mereka.

Untuk mensosialisasikan kampanye Sunsilk Unbreakable Women, Sunsilk mengeluarkan lagu berjudul ‘Unbreakable’ yang dinyanyikan oleh Shanty yang sekaligus sebagai duta Sunsilk dalam program tersebut, dengan lirik yang memberi inspirasi dan semangat bahwa perempuan Indonesia terlahir sebagai pribadi yang memiliki kekuatan luar biasa yang harus mereka syukuri dan pertahankan.

Ehm... semoga strategi ini akan berhasil mendongkrak awareness publik.

ASSYAFAAH MOSQUE, SINGAPORE




SIMBOL ARSITEKTUR & ISLAM UNIVERSAL


Di desain oleh Tan Kok Hiang dan Forum Architect , secara utuh menggambarkan kekuatan Islam modern dengan menampilkan bentukan geometri sederhana dan tatanan (motif tradisional islam) arabesque kedalam tampilan yang lebih modern. Sosok modern dimunculkan dan didukung dengan pemilihan material beton pracetak ekspos dan aluminium composite dan tabir berupa tatanan arabesque untuk menghadirkan unsur terbuka dan kesan dramatis dalam bangunan selain tuntutan cahaya dan penghawaan dalam ruang sebagai esensi. Sebuah masjid Islam modern yang universal yang terbuka dan mengundang bagi siapapun untuk memaknai dan memakmurkannya.










































Project Details
Project name: Assyafaah Mosque
Client: Majlis Ugama Islam Singapura
Project type: Religious Building
Principal designer/s: Tan Kok Hiang
Design team:
Structural engineer: Web Structures
Mechanical & Electrical: Alpha Engineering Consultant
Quantity surveyor: Davis Langdon & Seah Singapore Pte. Ltd.
Interior designer: Forum Architects
Calligrapher: Yahiya, Xian China
Contractor/s: Evan Lim Construction Pte. Ltd.
Date of commencement of project: May 2000
Date of completion of project: April 2004
Location of site: 1 Admiralty Lane, Singapore 757620
Site area: 2500 s.m.
Built-up area: 3489 sq.m.


Photographs: Albert Lim, Singapore

1.12.07

WARUNG ENAK, UBUD BALI

WARUNG GAYA BRISK *

*) Ramai dan segar

Ehmm...meskipun nyentrik dengan sentuhan warna-warni sedikit norak, warung enak mampu mengikat keakraban pengunjungnya.

Konsep "Casual but genjreng" dan dirancang agar bisa menjadi milik semua pengunjung warung - sebuah motto jenaka tentunya- hasil bseutan sang arsitek Made Wijaya. Warung ini benar-benar menawarkan alternatif gaya yang tampil beda dari gaya-gaya warung yang pernah ada. Sosok secara utuh menampilkan sebuah warung yang nyentrik, ramai, menjadi ruang publik yang santai dan informal, serta up to the minute. Karena lokasi yang tidak jauh dari Monkey Forest, menyebabkan Made Wijaya tergerak untuk menjadikan satu-kesatuan utuh dengan warung melalui penempatan patung-patung monyet menjadi bagian elemen desain yang ditampilkan secara jenaka pula.

Tata cahaya, lanscaping, ragam grafitti dan grafis khas kaki lima pun menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentukan atmosphere warung jenaka ini. Semua mempertegas kesan partisipasi pengunjung warung dalam menyikapi bahwa warung ini memang benar-benar ramah dan cocok dianggap sebagi milik semua. Well...


























All image courtesy by : PT. Wijaya Tribwana International

ASAL USUL NAMA GARUDA INDONESIA















"Ik ben Garoeda,Vishnoe' s vogel, die zijn vleugels uitsland hoog hovenUw cilanden …".





Kalimat tersebut adalah baris pertama sajak gubahan RM Noto Soeroto yang dijadikan inspirasi bagi Bung Karno saat dimintai pendapat tentang nama perusahaan penerbangan yang akan diperolehnya pasca-Konferensi Meja Bundar.
Raden Mas Noto Soeroto (1888-1951) adalah cucu Paku Alam V. Ia lama hidup di Den Haag dan merupakan salah satu Pujangga Baru seangkatan dengan Armyn Pane. Sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda tahun 1922, banyak karya yang dihasilkan di antaranya Geboortejaar Raden Saleh (1913), Melatiknoppen (1915), dan Wayang-liederan (1920). Dalam sajak terakhir inilah terdapat kalimat tentang cerita burung Garuda yang gagah perkasa.
Garuda yang merupakan kendaraan Dewa Wishnu tersebut dapat membentangkan sayapnya terbang tinggi di atas kepulauan Nusantara. Dari situlah awal nama perusahaan penerbangan Garuda Indonesia Airways, sedangkan nama Wishnu kerap dipakai sebagai nick name Presiden dalam lingkungan kemiliteran hingga kini.

MARKOES DJADJADININGRAT



BUKU 30 TAHUN INDONESIA MERDEKA


Namanya Markoes Djadjadiningrat. Dia disebut-sebut sebagai desainer grafis yang punya kelas di Indonesia. Logo sejumlah perusahaan, tercipta dari tangannya: Telkom, Garuda Indonesia, Indosat, BNI. Meski logo-logo itu bisa dijumpai di mana-mana, di pinggir jalan, di layar televisi, di hotel, di gedung-gedung mewah, tapi si pencipta relatif tak dikenal.

Suatu April pagi yang cerah, saya bertandang ke rumahnya di sebelah barat Bandung. Vespa tua menjajal lubang-lubang di jalan menuju ke rumahnya. Markoes pribadi yang hangat. Dia menyambut kedatangan saya di ujung pintu rumahnya. Rumahnya, asri dengan ornamen kayu dan ukiran. Ini juga sebuah galeri bernama Cipta Lima, yang uniknya, didirikan dan dijalankan bersama isteri dan ketiga putra mereka, yang uniknya lagi, sama-sama disainer grafis: Markoes, Dewi Tamarawati (istri) serta Musa Maulana Yusuf, Lutfi Sahid Nurhakim, Rafi Adrian Zulkarnain. Galeri ditata layaknya sebuah rumah, jauh dari kesan kantor.

Dalam masyarakat Sunda, nama ”Djadjadiningrat” menunjukkan si empunya berasal dari kalangan menak. Namun Markoes tak mewariskan nama aristokrat itu kepada anak-anaknya. Saya diterima di ruang kerja Markoes. Ada tempat tidur di ruang sebelah kiri. Meja kerja tertata rapi tanpa komputer. Di atas meja tergeletak buku tebal berjudul 30 Tahun Indonesia Merdeka, Sejarah Keris dan lain-lain. Dua buku itu menyedot perhatian mata. Ukurannya besar dan tebal. Semuanya, buku-buku karya Cipta Lima. Potret buram Soekarno, membuka lembar menuju catatan 30 Tahun Indonesia Merdeka. Ada tiga jilid, masing-masing untuk periode 1945-1955, 1955-1965 dan 1965-1975. Sudharmono, menteri sekretaris negara era Orde Baru, adalah orang yang bertanggungjawab atas penerbitan buku tiga jilid ini. Dalam kata sambutannya ia mengatakan, penyusunan peristiwa-peristiwa dalam buku ini sengaja dibuat kronologis, agar pembaca bisa menilai hasil pembangunan yang selama ini telah dijalankan. Bila pemerintah Indonesia menulis sejarah, tentu saja, selalu ada selingkuh dari fakta masa lalu. Tapi bukankah setiap orang atau kelompok atau lembaga berhak menulis buku? Meminjam perkataan mendiang Pramoedya Ananta Toer, “Melawan buku dengan buku.” Percuma melawan buku dengan golok atau debat kusir.

Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, dikerjakan selama setahun. Waktu yang relatif pendek untuk buku semacam itu. Dokumentasi naskah dan foto diambil dari Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Orang-orang yang terlibat dalam penyusunan teks meliputi Ginandjar Kartasasmita, Nugroho Notosusanto, A. Prabowo, Bambang Kesowo dan sebagainya. Notosusanto adalah sarjana Universitas Indonesia, yang dianggap berperan banyak dalam ”militerisasi” sejarah Indonesia. Markoes punya cerita menarik. Saat diminta terlibat dalam pembuatan buku itu, ia baru saja menyelesaikan tugas akhir di Institut Teknologi Bandung, jurusan desain grafis pada 1976. Tugas akhirnya dianggap paling meriah.

Poster-poster besar aneka warna. Para dosen terkejut dan antusias melihatnya. Usai sidang mereka berebut untuk memiliki karya Markoes. Sukses Markoes, rupanya hinggap ke telinga orang-orang Istana Merdeka. Seorang pemuda berusia 28 tahun dengan hasil karya memukau. Kristamurti Samil, kepala biro umum Sekretariat Negara, minta Markoes terlibat dalam pembuatan buku itu. Koordinatornya Ginandjar Kartasasmita. Markoes muda sangat senang menerima tawaran langsung dari Sekretariat Negara. Apalagi, saat itu disiplin ilmu tersebut belum populer di Indonesia. Masyarakat belum mengerti sepenuhnya apa pekerjaan seorang desainer grafis, walau mereka bisa melihat produk-produk desain grafis di mana saja di sekeliling mereka. Orang juga tidak peduli atau tidak merasa perlu tahu siapa sosok di balik penciptaan berbagai barang yang mereka lihat atau pegang, apalagi menghargainya sebagai karya seni Markoes, kerja keras. Sebab, tak mudah mengerjakan proyek buku ini dengan sistem manual.

Perlu ketelitian, kesabaran dan perhitungan. Ia membuat sistem dalam ingatan saja. Jangan membayangkan sistem komputerisasi, yang serba canggih. Hanya tinggal klik atau memindahkan kursor. Tak perlu memotong kertas-kertas halaman demi halaman untuk melihat contoh hasil lay out. Saat itu, Bandung belum mengenal komputer. Hal pertama yang dilakukan Markoes adalah membuat dummy dari buku yang akan dibuat. Kemudian, diajukan kepada koordinatornya. Dummy dibuat di Hongkong dan Singapura, ketika ia sengaja mempelajari sistem kerja desainer grafis di kedua negara itu. “Dari mulai menyeleksi foto-foto, hingga mempertahankan kualitas foto agar tidak pucat, semuanya manual,” ujar Markoes. Markoes membuat garis dan angka-angka untuk halaman, langsung di atas kertas. Satu lembar, ia selesaikan selama 10 menit. Hitung saja berapa lama ia harus merampungkan 800 halaman dalam buku itu. Ia mulai bekerja sejak fajar memulas ufuk timur hingga berganti tanggal. Demikian setiap harinya. “Tapi saat itu gak ada masalah, kok!” timpalnya. Kenapa fotonya hitam putih? Ini pertanyaan tak penting, tapi pada saat itu dunia fotografi sudah mengenal warna. “Iya, aneh juga, padahal waktu itu sudah ada foto berwarna. Mungkin kalau tidak hitam putih tidak identik dengan sejarah,” kata Markoes menerka-nerka, sambil tersenyum mengganggukkan kepala.

“Seorang desainer harus memahami konteks buku yang sedang digarapnya, agar timbul emosi dalam karyanya,” kata Markoes. Ia bahkan sampai hafal foto-foto dan teks materi buku itu. Tapi ia baru sadar bahwa foto-foto yang dimuat tidak mencantumkan nama fotografer atau agency asal foto itu. Kesadaran itu pun menyembul ketika saya mempertanyakannya. “Saya lupa,” kelakarnya. Markoes tak mengetahui apa yang menjadi pertentangan saat itu. Surat perintah Sebelas Maret, Gerakan 30 September, pembersihan Partai Komunis Indonesia, isu kudeta merambat dari Soeharto kepada Presiden Soekarno, semuanya di luar pikiran. “Boro-boro mengingat luka lama, saat itu yang timbul adalah semangat membangun,” ujar Markoes. “Saya mengalami saat-saat menakutkan. Begitu Bung Karno turun dan Soeharto naik, atmosfernya nyaman. Terasa terlindungi,” lanjut Markoes bersemangat. Tapi, belakangan buku-buku sejarah yang dibuat pemerintah Orde Baru banyak dikritik. Pencantuman PKI pada Gerakan 30 September. Kebenaran surat perintah Sebelas Maret. Dimana catatan dan foto-foto pembantaian lebih dari sejuta orang PKI? Misteri pembunuhan terhadap Tan Malaka, seorang pemikir dan pejuang proletar. Masih buram, pucat. “Tidak ada buku sejarah yang memuaskan semua pihak, apalagi partai. Tak usah mengungkit masa lalu, tapi kalau mau diluruskan silahkan saja. Yang paling penting kan keadaan sekarang,” ungkap Markoes. Nada bicaranya turun beberapa oktaf. “Kita harus melihat hasil akhirnya. Kalau bagus, kenapa mengungkit masa lalu?” ujar Markoes. Karir Markoes terus gemilang. Dia dinilai berhasil membuat buku sejarah resmi Orde Baru. Dia pun diminta membuat promosi Indonesia ke mancanegara dalam bentuk visualisasi dua dimensi. Intinya, pemerintah Indonesia mengundang para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Itu adalah pertama kalinya Indonesia mempromosikan diri sebagai negara yang siap bergulat dengan modal asing. Hasil kerjanya dinilai baik. Markoes kemudian mendapat order untuk mendisain piala penghargaan lingkungan hidup Kalpataru dan kebersihan kota Adipura. Dari awal sampai sekarang, Markoes memilih jalur freelance. Pilihan itu justru mengantarnya pada tingkat kepuasan dan memiliki kelas dengan sendirinya. Musa Maulana Yusuf, si anak sulung, mengagumi Markoes.

Sebagai disainer grafis, Musa menganggap ayahnya itu sebagai guru terbaiknya. Di alamat blog Musa, Markoes disejajarkan dengan maestro-maestro desainer grafis yang menginspirasinya. Markoes berkomentar, ”Saya ingin anak-anak muncul sendiri, tidak dibayang-bayangi oleh saya.”

Teks : Mulyani Hasan
Image Source : Cipta Lima