1.12.07

WARUNG ENAK, UBUD BALI

WARUNG GAYA BRISK *

*) Ramai dan segar

Ehmm...meskipun nyentrik dengan sentuhan warna-warni sedikit norak, warung enak mampu mengikat keakraban pengunjungnya.

Konsep "Casual but genjreng" dan dirancang agar bisa menjadi milik semua pengunjung warung - sebuah motto jenaka tentunya- hasil bseutan sang arsitek Made Wijaya. Warung ini benar-benar menawarkan alternatif gaya yang tampil beda dari gaya-gaya warung yang pernah ada. Sosok secara utuh menampilkan sebuah warung yang nyentrik, ramai, menjadi ruang publik yang santai dan informal, serta up to the minute. Karena lokasi yang tidak jauh dari Monkey Forest, menyebabkan Made Wijaya tergerak untuk menjadikan satu-kesatuan utuh dengan warung melalui penempatan patung-patung monyet menjadi bagian elemen desain yang ditampilkan secara jenaka pula.

Tata cahaya, lanscaping, ragam grafitti dan grafis khas kaki lima pun menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentukan atmosphere warung jenaka ini. Semua mempertegas kesan partisipasi pengunjung warung dalam menyikapi bahwa warung ini memang benar-benar ramah dan cocok dianggap sebagi milik semua. Well...


























All image courtesy by : PT. Wijaya Tribwana International

ASAL USUL NAMA GARUDA INDONESIA















"Ik ben Garoeda,Vishnoe' s vogel, die zijn vleugels uitsland hoog hovenUw cilanden …".





Kalimat tersebut adalah baris pertama sajak gubahan RM Noto Soeroto yang dijadikan inspirasi bagi Bung Karno saat dimintai pendapat tentang nama perusahaan penerbangan yang akan diperolehnya pasca-Konferensi Meja Bundar.
Raden Mas Noto Soeroto (1888-1951) adalah cucu Paku Alam V. Ia lama hidup di Den Haag dan merupakan salah satu Pujangga Baru seangkatan dengan Armyn Pane. Sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda tahun 1922, banyak karya yang dihasilkan di antaranya Geboortejaar Raden Saleh (1913), Melatiknoppen (1915), dan Wayang-liederan (1920). Dalam sajak terakhir inilah terdapat kalimat tentang cerita burung Garuda yang gagah perkasa.
Garuda yang merupakan kendaraan Dewa Wishnu tersebut dapat membentangkan sayapnya terbang tinggi di atas kepulauan Nusantara. Dari situlah awal nama perusahaan penerbangan Garuda Indonesia Airways, sedangkan nama Wishnu kerap dipakai sebagai nick name Presiden dalam lingkungan kemiliteran hingga kini.

MARKOES DJADJADININGRAT



BUKU 30 TAHUN INDONESIA MERDEKA


Namanya Markoes Djadjadiningrat. Dia disebut-sebut sebagai desainer grafis yang punya kelas di Indonesia. Logo sejumlah perusahaan, tercipta dari tangannya: Telkom, Garuda Indonesia, Indosat, BNI. Meski logo-logo itu bisa dijumpai di mana-mana, di pinggir jalan, di layar televisi, di hotel, di gedung-gedung mewah, tapi si pencipta relatif tak dikenal.

Suatu April pagi yang cerah, saya bertandang ke rumahnya di sebelah barat Bandung. Vespa tua menjajal lubang-lubang di jalan menuju ke rumahnya. Markoes pribadi yang hangat. Dia menyambut kedatangan saya di ujung pintu rumahnya. Rumahnya, asri dengan ornamen kayu dan ukiran. Ini juga sebuah galeri bernama Cipta Lima, yang uniknya, didirikan dan dijalankan bersama isteri dan ketiga putra mereka, yang uniknya lagi, sama-sama disainer grafis: Markoes, Dewi Tamarawati (istri) serta Musa Maulana Yusuf, Lutfi Sahid Nurhakim, Rafi Adrian Zulkarnain. Galeri ditata layaknya sebuah rumah, jauh dari kesan kantor.

Dalam masyarakat Sunda, nama ”Djadjadiningrat” menunjukkan si empunya berasal dari kalangan menak. Namun Markoes tak mewariskan nama aristokrat itu kepada anak-anaknya. Saya diterima di ruang kerja Markoes. Ada tempat tidur di ruang sebelah kiri. Meja kerja tertata rapi tanpa komputer. Di atas meja tergeletak buku tebal berjudul 30 Tahun Indonesia Merdeka, Sejarah Keris dan lain-lain. Dua buku itu menyedot perhatian mata. Ukurannya besar dan tebal. Semuanya, buku-buku karya Cipta Lima. Potret buram Soekarno, membuka lembar menuju catatan 30 Tahun Indonesia Merdeka. Ada tiga jilid, masing-masing untuk periode 1945-1955, 1955-1965 dan 1965-1975. Sudharmono, menteri sekretaris negara era Orde Baru, adalah orang yang bertanggungjawab atas penerbitan buku tiga jilid ini. Dalam kata sambutannya ia mengatakan, penyusunan peristiwa-peristiwa dalam buku ini sengaja dibuat kronologis, agar pembaca bisa menilai hasil pembangunan yang selama ini telah dijalankan. Bila pemerintah Indonesia menulis sejarah, tentu saja, selalu ada selingkuh dari fakta masa lalu. Tapi bukankah setiap orang atau kelompok atau lembaga berhak menulis buku? Meminjam perkataan mendiang Pramoedya Ananta Toer, “Melawan buku dengan buku.” Percuma melawan buku dengan golok atau debat kusir.

Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, dikerjakan selama setahun. Waktu yang relatif pendek untuk buku semacam itu. Dokumentasi naskah dan foto diambil dari Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Orang-orang yang terlibat dalam penyusunan teks meliputi Ginandjar Kartasasmita, Nugroho Notosusanto, A. Prabowo, Bambang Kesowo dan sebagainya. Notosusanto adalah sarjana Universitas Indonesia, yang dianggap berperan banyak dalam ”militerisasi” sejarah Indonesia. Markoes punya cerita menarik. Saat diminta terlibat dalam pembuatan buku itu, ia baru saja menyelesaikan tugas akhir di Institut Teknologi Bandung, jurusan desain grafis pada 1976. Tugas akhirnya dianggap paling meriah.

Poster-poster besar aneka warna. Para dosen terkejut dan antusias melihatnya. Usai sidang mereka berebut untuk memiliki karya Markoes. Sukses Markoes, rupanya hinggap ke telinga orang-orang Istana Merdeka. Seorang pemuda berusia 28 tahun dengan hasil karya memukau. Kristamurti Samil, kepala biro umum Sekretariat Negara, minta Markoes terlibat dalam pembuatan buku itu. Koordinatornya Ginandjar Kartasasmita. Markoes muda sangat senang menerima tawaran langsung dari Sekretariat Negara. Apalagi, saat itu disiplin ilmu tersebut belum populer di Indonesia. Masyarakat belum mengerti sepenuhnya apa pekerjaan seorang desainer grafis, walau mereka bisa melihat produk-produk desain grafis di mana saja di sekeliling mereka. Orang juga tidak peduli atau tidak merasa perlu tahu siapa sosok di balik penciptaan berbagai barang yang mereka lihat atau pegang, apalagi menghargainya sebagai karya seni Markoes, kerja keras. Sebab, tak mudah mengerjakan proyek buku ini dengan sistem manual.

Perlu ketelitian, kesabaran dan perhitungan. Ia membuat sistem dalam ingatan saja. Jangan membayangkan sistem komputerisasi, yang serba canggih. Hanya tinggal klik atau memindahkan kursor. Tak perlu memotong kertas-kertas halaman demi halaman untuk melihat contoh hasil lay out. Saat itu, Bandung belum mengenal komputer. Hal pertama yang dilakukan Markoes adalah membuat dummy dari buku yang akan dibuat. Kemudian, diajukan kepada koordinatornya. Dummy dibuat di Hongkong dan Singapura, ketika ia sengaja mempelajari sistem kerja desainer grafis di kedua negara itu. “Dari mulai menyeleksi foto-foto, hingga mempertahankan kualitas foto agar tidak pucat, semuanya manual,” ujar Markoes. Markoes membuat garis dan angka-angka untuk halaman, langsung di atas kertas. Satu lembar, ia selesaikan selama 10 menit. Hitung saja berapa lama ia harus merampungkan 800 halaman dalam buku itu. Ia mulai bekerja sejak fajar memulas ufuk timur hingga berganti tanggal. Demikian setiap harinya. “Tapi saat itu gak ada masalah, kok!” timpalnya. Kenapa fotonya hitam putih? Ini pertanyaan tak penting, tapi pada saat itu dunia fotografi sudah mengenal warna. “Iya, aneh juga, padahal waktu itu sudah ada foto berwarna. Mungkin kalau tidak hitam putih tidak identik dengan sejarah,” kata Markoes menerka-nerka, sambil tersenyum mengganggukkan kepala.

“Seorang desainer harus memahami konteks buku yang sedang digarapnya, agar timbul emosi dalam karyanya,” kata Markoes. Ia bahkan sampai hafal foto-foto dan teks materi buku itu. Tapi ia baru sadar bahwa foto-foto yang dimuat tidak mencantumkan nama fotografer atau agency asal foto itu. Kesadaran itu pun menyembul ketika saya mempertanyakannya. “Saya lupa,” kelakarnya. Markoes tak mengetahui apa yang menjadi pertentangan saat itu. Surat perintah Sebelas Maret, Gerakan 30 September, pembersihan Partai Komunis Indonesia, isu kudeta merambat dari Soeharto kepada Presiden Soekarno, semuanya di luar pikiran. “Boro-boro mengingat luka lama, saat itu yang timbul adalah semangat membangun,” ujar Markoes. “Saya mengalami saat-saat menakutkan. Begitu Bung Karno turun dan Soeharto naik, atmosfernya nyaman. Terasa terlindungi,” lanjut Markoes bersemangat. Tapi, belakangan buku-buku sejarah yang dibuat pemerintah Orde Baru banyak dikritik. Pencantuman PKI pada Gerakan 30 September. Kebenaran surat perintah Sebelas Maret. Dimana catatan dan foto-foto pembantaian lebih dari sejuta orang PKI? Misteri pembunuhan terhadap Tan Malaka, seorang pemikir dan pejuang proletar. Masih buram, pucat. “Tidak ada buku sejarah yang memuaskan semua pihak, apalagi partai. Tak usah mengungkit masa lalu, tapi kalau mau diluruskan silahkan saja. Yang paling penting kan keadaan sekarang,” ungkap Markoes. Nada bicaranya turun beberapa oktaf. “Kita harus melihat hasil akhirnya. Kalau bagus, kenapa mengungkit masa lalu?” ujar Markoes. Karir Markoes terus gemilang. Dia dinilai berhasil membuat buku sejarah resmi Orde Baru. Dia pun diminta membuat promosi Indonesia ke mancanegara dalam bentuk visualisasi dua dimensi. Intinya, pemerintah Indonesia mengundang para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Itu adalah pertama kalinya Indonesia mempromosikan diri sebagai negara yang siap bergulat dengan modal asing. Hasil kerjanya dinilai baik. Markoes kemudian mendapat order untuk mendisain piala penghargaan lingkungan hidup Kalpataru dan kebersihan kota Adipura. Dari awal sampai sekarang, Markoes memilih jalur freelance. Pilihan itu justru mengantarnya pada tingkat kepuasan dan memiliki kelas dengan sendirinya. Musa Maulana Yusuf, si anak sulung, mengagumi Markoes.

Sebagai disainer grafis, Musa menganggap ayahnya itu sebagai guru terbaiknya. Di alamat blog Musa, Markoes disejajarkan dengan maestro-maestro desainer grafis yang menginspirasinya. Markoes berkomentar, ”Saya ingin anak-anak muncul sendiri, tidak dibayang-bayangi oleh saya.”

Teks : Mulyani Hasan
Image Source : Cipta Lima

29.11.07

LEGENDA PAK SAKERA : SIMBOL PERLAWANAN RAKYAT JELATA


MENELUSURI SEJARAH CAROK & CELURIT


Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).


PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja.

Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok? Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.

Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam.

Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.

Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.

Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.


Source : Tabloid Posmo

MEGA MENDUNG















































Sejatinya di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan budaya batik yang khas. tak kalah dengan Solo, Yogya, dan Pekalongan, seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota tersebut. Yang nyangkut dihati saya hingga saat ini adalah Motif Mega Mendung atau sering juga orang menyebutnya Awan-awanan. Pada motif ini nampak kental nuansa oriental cinanya.

Tak kalah penting dari corak dan warnanya adalah perlambang maupun nilai yang dimunculkannya bahwa Motif mega mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingga biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.

Jika dirunut menurut sejarahnya, di daerah cirebon terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari dalam maupun luar negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya.
Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.